LOMBOK TIMUR, RadarMadura.id – Pekerja Migran Indonesia (PMI) memiliki kontribusi besar bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan keluarga mereka. Namun, setelah masa kerja di luar negeri berakhir, banyak Purna PMI menghadapi tantangan baru seperti keterbatasan keterampilan usaha, minimnya akses permodalan, dan kesulitan memperoleh pekerjaan yang berkelanjutan di dalam negeri.
Menjawab tantangan tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli kembali menggelar Program Pemberdayaan Purna Pekerja Migran Indonesia. Program ini menjadi wujud nyata komitmen BRI dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya para eks pekerja migran.
Kali ini, program pemberdayaan menyasar purna PMI asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 30 purna pekerja migran mengikuti rangkaian pelatihan intensif yang digelar di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur—wilayah yang dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Pulau Lombok.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan berbagai jenis pelatihan mulai dari pengembangan produk bambu berbasis tren pasar dan preferensi konsumen, teknik anyaman lanjutan, serta diversifikasi produk bambu berkualitas ekspor. Tak hanya fokus pada produksi, peserta juga dibekali dengan pelatihan pengelolaan keuangan usaha, harga pokok penjualan (HPP), serta strategi pemasaran dan branding produk.
Baca Juga: Kredit Konsumer BRI Tumbuh 10,65 Persen, Dorong Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat
Corporate Secretary BRI Dhanny menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membekali para purna PMI dengan keterampilan praktis agar dapat mandiri secara ekonomi. “Melalui dukungan mentor berpengalaman, purna PMI akan memiliki kesempatan mengembangkan usaha secara mandiri atau mendapatkan pekerjaan sesuai keterampilannya. Harapannya, mereka dapat berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dhanny, BRI memahami bahwa proses reintegrasi sosial dan ekonomi bagi purna PMI bukan hal mudah. Karena itu, pemberdayaan berbasis potensi lokal menjadi langkah strategis untuk menciptakan lapangan kerja baru yang berkelanjutan.
Desa Loyok dipilih karena memiliki tradisi panjang sebagai penghasil kerajinan bambu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para perajin setempat menghadapi tantangan berupa keterbatasan bahan baku, keterampilan inovasi, serta persaingan ketat dengan produk modern yang berbasis industri.
Selain itu, banyak Purna PMI di Desa Loyok yang memiliki pengalaman kerja luar negeri, tetapi belum mampu memanfaatkan keterampilan dan modal sosial yang dimilikinya untuk membuka usaha baru. Melalui integrasi pelatihan kerajinan, inovasi desain, dan digital marketing, BRI berupaya menghidupkan kembali potensi ekonomi desa ini.
Program pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkenalkan konsep kewirausahaan berbasis komunitas. Peserta diajak untuk bekerja sama dalam kelompok usaha agar tercipta jaringan produksi yang saling mendukung dan memperkuat daya saing.
Baca Juga: BRI Perkuat Sport Tourism dan Ekonomi Lokal, Dukung Indonesia Mendunia Lewat MotoGP Mandalika 2025
Selain pelatihan produksi dan desain, peserta juga mendapatkan bimbingan intensif dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha mikro. Pelatihan ini membantu para purna PMI agar lebih siap dalam menyusun laporan keuangan sederhana, menentukan harga jual, dan memahami pentingnya efisiensi biaya dalam bisnis.
Tak kalah penting, pelatihan branding dan pemasaran digital juga diberikan agar para pelaku usaha baru mampu memasarkan produknya secara lebih luas, baik di pasar lokal maupun global. Hal ini menjadi penting mengingat permintaan produk bambu ramah lingkungan terus meningkat di banyak negara.
Produk bambu asal Lombok memiliki potensi ekspor besar, khususnya untuk pasar dekorasi rumah dan perabot ramah lingkungan. Dengan inovasi desain dan dukungan pemasaran modern, produk Desa Loyok diharapkan mampu bersaing di pasar internasional.
Program ini juga diharapkan menciptakan ekosistem usaha berkelanjutan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, mulai dari pengrajin, pemasok bahan baku, hingga lembaga keuangan lokal. Dengan demikian, dampak ekonomi yang dihasilkan dapat lebih luas dan berkesinambungan.
Baca Juga: BRI Dukung UMKM Kuliner Padang Lewat Pemberdayaan Pengusaha Muda BRILiaN
“Melalui pemberdayaan ini, BRI berkomitmen membantu purna PMI agar tidak hanya pulang ke kampung halaman, tetapi juga memiliki bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan mandiri,” tutur Dhanny menutup pernyataannya. (dry)
Editor : Hendriyanto