Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

WANGI TAJIN SOBIH IBU

Amin Basiri • Minggu, 18 Januari 2026 | 06:30 WIB
Ilustrasi dibuat oleh  AI
Ilustrasi dibuat oleh AI

Karya:  Faiqatus Safariyah*

Dengan aroma santan kental dan gula merah yang mendidih dari dapur kecil mereka.

Di sana, Ibu sudah sibuk sejak jam tiga pagi, memastikan bubur putih, bubur selo, dan lo-milo matang dengan sempurna.

Inilah Tajin Sobih, warisan turun-temurun dari Desa Sobih yang sudah menghidupi mereka sejak Bapak tiada.

​ Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, Halima membantu Ibu memanggul baki kayu atau talam besar menuju Pasar Anom.

Meski pundaknya terasa berat, hatinya jauh lebih berat karena rasa gengsi yang masih mengimpit.

Di sekolah, Halima adalah siswi teladan, tapi di gerbang pasar, ia sering menarik jilbabnya lebih ke depan, takut jika ada teman sekolahnya yang melihatnya sedang sibuk menata daun pisang di samping bakul Ibu.

​”Halima, engko’ ta’ matoro’a otang (Ibu tidak mau punya utang). Tajin ini yang bikin kamu bisa beli buku paket," kata Ibu pelan dalam bahasa Madura, seolah bisa membaca kegelisahan di wajah anaknya.

Halima hanya terdiam, tangannya cekatan menyendok saus gula merah yang kental ke dalam pincuk daun pisang. 

Puncaknya adalah saat pengumuman kelulusan. Halima diterima di sebuah universitas negeri di Surabaya.

Teman-temannya sibuk merencanakan pesta perpisahan, sementara Halima duduk di kursi kayu kusam di sudut Pasar Anom, menemani Ibu melayani pembeli yang datang silih berganti.

​”Bu, uang daftar ulangnya mahal sekali. Apa Halima kerja saja di toko bangunan dekat terminal?” tanya Halima ragu.

Ia tahu, harga satu porsi Tajin Sobih hanya beberapa ribu rupiah. Butuh berapa ribu pincuk untuk membiayai kuliahnya di kota seberang?

​ Ibu berhenti mengaduk santan. Beliau mengelap tangannya pada kain celemek yang kusam, lalu merogoh bungkusan kain jarik yang melilit pinggangnya.

Ibu mengeluarkan kaleng biskuit karatan yang disembunyikan di balik bakul. Di dalamnya, ada tumpukan uang ribuan dan dua ribuan yang sudah lecek, diikat rapi dengan karet gelang.

​"Setiap mangkuk yang laku, ada uang yang Ibu simpan di sini, Nduk. Ini buat kamu ke Surabaya," suara Ibu serak, tapi mantap.

"Ibu tidak mau kamu selamanya mencium bau asap dapur. Kamu harus melihat dunia yang lebih luas dari Sumenep. Fii amanillah, Nak. Ibu rida,” lanjutnya lirih menyertakan doa perlindungan Allah untuk anaknya.

​ Di Surabaya, Halima sadar bahwa uang ribuan yang dikumpulkan Ibu di kaleng biskuit itu sangat kecil nilainya di kota besar.

Sering kali, ia harus menelan ludah saat teman-temannya mengajak makan di kantin yang harganya setara dengan sepuluh pincuk tajin Ibu.

Tapi, setiap kali ia merasa minder atau ingin menyerah, ia selalu teringat bau tangan Ibu. Bau perpaduan santan dan asap kayu bakar yang tidak bisa hilang meski sudah dicuci sabun berkali-kali.

​ Pernah suatu malam Halima menelepon dari kosan yang sempit. ”Bu, apa tidak apa-apa kalau Halima ikut kerja paruh waktu? Kasihan Ibu di pasar sendirian,” tanyanya, suaranya parau karena menahan rindu.

​ Di seberang telepon, suara Ibu terdengar renyah meski Halima tahu Ibu pasti baru saja selesai mencuci kuali-kuali besar.

”Tugasmu itu belajar, Nduk. Jangan pikirkan bakul Ibu. Di sini masih banyak orang yang nyari Tajin Sobih. Ibu masih kuat kalau cuma buat membiayai kamu sampai pakai toga. Hasbunallah wanikmal wakil, cukuplah Allah penolong kita.”

​Halima menutup telepon dengan dada sesak. Sejak hari itu, ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan sepeser pun uang kiriman dari Sumenep.

Baginya, setiap lembar uang lecek yang diterima dari Ibu adalah tetesan keringat yang harus dibayar lunas dengan ijazah.

​ Empat tahun kemudian, Halima kembali. Ia turun dari bus di Terminal Arya Wiraraja dengan ijazah di dalam tasnya. Ia tidak langsung pulang ke rumah, tetapi langsung menuju pasar.

Di sana, di bawah pohon beringin yang masih sama, Ibu masih setia dengan bakul besarnya. Halima mendekat, mencium tangan Ibu yang masih beraroma santan gurih.

​”Bu, Halima sudah lulus,” bisiknya.

​Ibu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar membisikkan doa syukurnya, ”Alhamdulillah, barakallahu fik, Nduk. Allah sudah jawab doa-doa Ibu di sepertiga malam.”

​ Beberapa orang langganan di Pasar Anom menoleh dengan haru. Halima tidak lagi menarik jilbabnya untuk bersembunyi.

Ia berdiri tegak di samping Ibu, membantu membungkus tajin untuk pembeli terakhir. Ia ingin semua orang tahu bahwa gelar sarjananya dimasak di atas tungku kayu dan dibungkus dengan daun pisang Tajin Sobih yang sederhana. (*)

* Asal Desa Errabu, Kecamatan Bluto, Sumenep

Editor : Amin Basiri