Oleh AKHMADI YASID
DI sebuah panggung yang disinari lampu dan sorak-sorai, seorang anak muda berdiri. Namanya Valen. Suaranya melengking—kadang lirih, kadang menggedor—seperti ombak yang tahu kapan harus memukul karang dan kapan kembali ke laut.
Kita menontonnya. Lalu, tanpa sadar, kita menyebut namanya berulang-ulang, seolah itu bukan sekadar nama orang lain, melainkan gema dari diri kita sendiri.
Mengapa Valen begitu digandrungi?
Mungkin karena ia datang dari darah yang sama: Madura. Sebuah kata yang kerap diperas maknanya, dipersempit jadi stereotipe, dijadikan label yang ringan diucap tapi berat ditanggung.
Kita tumbuh dengan kisah-kisah tentang Madura yang sering selesai di warung—warung Madura yang buka dua puluh empat jam—yang menjadi penanda kehadiran sekaligus batas imajiner tentang siapa kita.
Valen mematahkan itu, tanpa pidato. Tanpa perlu pencitraan karana ia adalah citra itu sendiri.
Ia tidak datang membawa manifesto. Ia datang dengan suara, dengan tubuh yang percaya diri, dengan gaya yang tidak meminta maaf atas asal-usulnya.
Dan di situlah magnet itu bekerja. Valen menjadi entitas—bukan sekadar peserta lomba—yang memantulkan sesuatu dari diri kita. Kita melihatnya, dan tiba-tiba merasa dilihat.
Barangkali ini juga soal kebutuhan yang lebih dalam. Kita butuh sesuatu—atau seseorang—yang menyatukan. Sebab, jujur saja, nyaris tak ada lagi yang mampu menyatukan kita.
Yang sering tersisa hanyalah kepentingan. Yang tersisa hanya soal kuasa dan tuna kuasa. Dan kepentingan, serta kuasa, seperti kita tahu, selalu merasa dirinya abadi.
Anehnya, ketika kita berbicara tentang Valen, kita sedang berbicara tentang sebuah kepentingan yang lain: kepentingan tentang kita sendiri. Tentang Madura. Tentang tanah tempat kita berpijak, dan udara yang kita hirup sejak lahir.
Ini bukan kepentingan sempit yang menyingkirkan yang lain. Melainkan, kepentingan untuk merasa utuh sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita.
Dalam psikologi massa, ada momen ketika seseorang di atas panggung berhenti menjadi individu. Ia berubah menjadi cermin. Kita tidak lagi berkata, ”Dia hebat,” melainkan, ”Kita bisa”.
Mungkin itulah sebabnya kita berkata: kita adalah Valen, dan Valen adalah kita.
Ada pertalian darah, tentu. Tapi lebih dari itu, ada pertalian rasa. Sama-sama tumbuh dari pinggiran, dari tempat yang sering harus berbicara lebih keras agar didengar.
Valen mengubah suara itu menjadi nyanyian. Dan nyanyian, seperti kita tahu, lebih sulit diabaikan.
Valen tidak hanya menyatukan dukungan; ia menumbuhkan rasa memiliki. Sebuah spirit Madura yang tidak marah, tidak defensif, tidak sibuk menjelaskan diri. Spirit yang berjalan ke depan dengan kepala tegak, membiarkan kualitas berbicara.
Kini, Madura tak lagi hanya disebut ketika orang mencari warung tengah malam. Madura disebut di ruang keluarga, di grup percakapan, di layar televisi nasional. Disebut dengan nada bangga, dengan senyum kecil yang tak perlu diumumkan.
Maka, Valen bukan sekadar fenomena hiburan. Ia adalah pengingat: bahwa identitas bisa hadir tanpa bendera. Bahwa, kebanggaan tak harus berisik, dan dari panggung mana pun—bahkan panggung dangdut. Sebuah wilayah bisa menegaskan keberadaannya.
Sekarang, ketika orang menyebut Valen, barangkali mereka sedang menyebut kita. Dan ketika kita menyebut Madura, kita tahu: Madura hari ini bernama Valen. Selamat berjuang anak muda. (*)
*)Mantan Jurnalis, kini mengabdi di Parlemen