BANGKALAN – Warung Amboina didirikan sekitar 1968 oleh Hj. Siti Nurrohmah. Karena Hj. Siti Nurrohmah wafat, warung nasi ini dilanjutkan anaknya, Hj. Siti Fatimah. Saat ini warung nasi campur legendaris itu dikelola Abdul Latif Jabbar, putra Fatimah. Dia merupakan generasi ketiga.
Kuliner ini terdaftar dengan nomor IDM000283018 yang dikeluarkan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HKI). Abdul Latif menjelaskan, nama warung Amboina berasal dari bahasa Ambon.
”Kata nenek saya. Cuma tidak tahu pasti artinya. Ada yang bilang itu nama Ambon itu sendiri. Tapi memang dulu nenek merantau di Ambon,” tuturnya.
Mulanya, almarhumah Hj. Siti Nurrohmah berjualan nasi di Ambon saat merantau. Kemudian, dia pulang kampung dan mencoba peruntungan di tanah kelahiran. Rupanya masakan yang dijualnya laris dan banyak pelanggan. ”Warung ini sudah lebih tua dari saya,” kata Abdul Latif mengenang.
Hingga saat ini, penggemar kuliner Amboina terus bertambah. Terutama dari luar Madura. Misalnya, Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Banjarmasin, Jakarta, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya. Ada pelanggan setia.
Bahkan, ada pelanggan yang mengaku ketika datang ke warung tersebut selalu teringat masa bersama orang tuanya. Sehingga tak jarang banyak pengunjung yang datang untuk makan sekaligus bernostalgia.
”Alhamdulillah. Sampai saat ini terus ramai. Kalau pas buka paling ramai itu jam makan siang. Itu pasti ramai,” imbuhnya.
Sementara itu, Fadlillah, salah seorang pengunjung, menyampaikan, Amboina merupakan salah satu tempat kuliner legendaris. Selain itu, penuh kenangan. Dia mengaku ketika datang ke tempat tersebut selalu teringat ketika masih berumur tujuh tahun.
”Sepulang dari Surabaya sering mampir di sini sama abah dan emak. Sekarang giliran saya sama istri yang ngajak anak-anak mampir. Sekitar tahun 1996. Rasanya tetap mantap,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri