Tembang Guwa Pajudan Kenalkan Sejarah dan Pesona Wisata, Puluhan Grup Tongtong Pukau Ribuan Penonton

Hera Marylia • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 05:52 WIB
MERIAH: Ribuan orang menyaksikan Festival Musik Tongtong Sumenep 2026 di Jalan Urip Sumoharjo, Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (5/9) malam. (MOH. LATIF/JPRM)
MERIAH: Ribuan orang menyaksikan Festival Musik Tongtong Sumenep 2026 di Jalan Urip Sumoharjo, Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (5/9) malam. (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Dentuman tongtong bersahut-sahutan disepanjang Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (5/9) malam.

Terdapat 27 grup musik dari empat kabupaten di Madura yang tampil dalam Festival Tongtong Sumenep 2026.

Ribuan warga pun tumpah ruah di sepanjang rute parade.

Mereka berdiri di tepi jalan, menyaksikan satu per satu kontingen yang menampilkan aransemen dan permainan musik tradisional yang menjadi ciri khas dan identitas masyarakat Madura itu.

Baca Juga: Sumur Kering, Warga Desa Larangan Tokol TIga Bulan Alami Krisis Air Bersih

Peserta Festival Tongtong Sumenep 2026 berjalan dari sisi selatan Stadion A. Yani.

Puluhan grup tersebut bergerak menyusuri Jalan Urip Sumoharjo hingga mencapai garis akhir di Jalan A. Yani Sumenep.

Setiap kelompok tampil dengan karakter masing-masing. Namun, tahun ini seluruh peserta diwajibkan membawakan tembang Guwa Pajudan.

Lagu wajib tersebut dipilih sebagai upaya mengenalkan kembali nilai sejarah Guwa Pajudan, salah satu destinasi wisata yang memesona di ujung timur Pulau Madura.

Dentuman tongtong tak hanya menjadi suguhan musik, tetapi juga membawa pesan tentang kekayaan sejarah dan potensi wisata daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep Faruk Hanafi mengatakan, festival tongtong memiliki arti penting dalam menjaga keberlangsungan seni budaya lokal.

Menurutnya, festival tahunan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku seni sekaligus sarana mengenalkan warisan leluhur kepada generasi mendatang.

Partisipasi 27 grup dari berbagai daerah di Madura, lanjut Faruk, menunjukkan bahwa musik tongtong masih mendapat perhatian masyarakat.

Baca Juga: PMI Ilegal Tewas di Malaysia, Pasca Alami Kecelakaan Kerja

Tradisi tersebut dinilai mampu menarik perhatian dengan bentuk hiburan modern.

”Ini bukan sebatas pertunjukan musik biasa. Festival tongtong adalah ikhtiar bersama dari upaya merawat identitas agar seni budaya kita tidak tergerus zaman dan terus hidup untuk diwariskan ke generasi penerus,” katanya.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat dalam festival tersebut.

Dia menegaskan, kegiatan budaya ini tidak hanya menjadi arena kompetisi.

Lebih dari itu, festival tongtong merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga sekaligus mengembangkan kesenian lokal agar terus dikenal oleh masyarakat luas.

”Musik tongtong merupakan salah satu kekayaan budaya Madura yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Festival ini menjadi ruang bagi para seniman untuk berkreasi sekaligus memperkenalkan budaya Madura kepada masyarakat,” ungkapnya.

Dia berharap, festival tersebut mampu menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap seni dan budaya daerah.

Selain itu, penyelenggaraan event berbasis budaya secara konsisten semakin menguatkan posisi Sumenep sebagai salah satu daerah yang aktif merawat sekaligus mempromosikan kekayaan tradisi.

Baca Juga: Kreasi Mie Instan Jadi Sempol Gurih, Resep Camilan Praktis dengan Bahan Ekonomis 

Menurutnya, Festival Musik Tongtong Se-Madura 2026 telah masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN).

Pemkab Sumenep menargetkan ajang tersebut menjadi pintu untuk membawa musik tongtong lebih dikenal, tidak hanya oleh wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara.

”Terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan festival ini. Selamat kepada para pemenang,” tukasnya. (tif/bil)

Editor : Hera Marylia
tembang Guwa Pajudan 27 grup kesenian lokal warisan leluhur festival tongtong