SUMENEP, RadarMadura.id– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terus mendorong pengembangan potensi wisata di tingkat desa.
Sebanyak 50 desa ditargetkan mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu strategi menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep Faruk Hanafi mengatakan, pengembangan desa wisata dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik dan potensi yang dimiliki masing-masing desa.
Dengan begitu, setiap desa dapat mengangkat keunggulan lokal sebagai daya tarik wisata.
"Awalnya hanya ada 27 desa yang menetapkan pengembangan ekonomi desa melalui sektor wisata. Seiring perkembangannya, jumlah tersebut bertambah menjadi 50 desa," katanya.
Dia menjelaskan, potensi yang dikembangkan mayoritas berasal dari kekayaan alam yang dimiliki desa.
Potensi tersebut kemudian ditata dan dikembangkan oleh pemerintah desa sehingga mampu menjadi destinasi yang menarik bagi masyarakat maupun wisatawan.
Salah satu contohnya berada di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto. Menurut Faruk, desa tersebut memiliki kawasan pantai yang menawarkan suasana sejuk dengan pemandangan yang menarik.
Kondisi itu selama ini menjadi daya tarik tersendiri, termasuk bagi masyarakat yang gemar memancing di kawasan pesisir.
Menurut dia, pemerintah desa kemudian melakukan penataan terhadap potensi yang ada dengan mempercantik sejumlah titik dan membangun fasilitas pendukung.
Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi warga sekitar.
"Potensi yang dimiliki desa kemudian dikembangkan dan ditata agar lebih menarik. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang datang dan pada akhirnya memberikan dampak ekonomi bagi warga di sekitar destinasi," ujarnya.
Selain mengandalkan potensi alam, Pemkab Sumenep juga mendorong pengembangan desa wisata berbasis budaya.
Salah satunya Desa Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan keris. Wisatawan yang berkunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan keris oleh para perajin setempat.
"Kalau Desa Lobuk mengembangkan potensi wisata berbasis sumber daya alam, Desa Aengtongtong lebih menonjolkan potensi budaya. Pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan keris oleh para empu di desa tersebut," ucapnya.
Dia menambahkan, Aengtongtong juga memiliki daya tarik yang kuat karena tercatat memiliki sekitar 446 perajin keris aktif.
Desa tersebut bahkan dinobatkan sebagai desa dengan jumlah empu keris terbanyak di dunia oleh UNESCO.
Selain itu, Aengtongtong berhasil meraih juara pertama Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
Capaian tersebut menjadi salah satu alasan Pemkab Sumenep memberikan perhatian terhadap keberlanjutan pengembangan wisata budaya di desa tersebut. (tif/han)
Editor : Amin Basiri