Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Majelis Buku Parjuga Society Bedah Buku Manusia Merdeka yang Memerdekakan, Menjadikan Sekolah sebagai Tempat yang Menyenangkan dan Membahagiakan

Hera Marylia Damayanti • Senin, 13 Juli 2026 | 07:59 WIB
BERTUKAR GAGASAN: Sejumlah peserta mengikuti diskusi bedah buku Manusia Merdeka yang Memerdekakan di Desa Gedungan, Batuan, Sumenep, Sabtu (11/7). (KIKO ANWAR UNTUK JPRM)
BERTUKAR GAGASAN: Sejumlah peserta mengikuti diskusi bedah buku Manusia Merdeka yang Memerdekakan di Desa Gedungan, Batuan, Sumenep, Sabtu (11/7). (KIKO ANWAR UNTUK JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Pendidikan yang memerdekakan dimulai ketika sekolah tidak menghakimi dan menghargai setiap potensi anak didik.

Mengembalikan makna pendidikan berarti menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan, membahagiakan, dan memerdekakan.

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan, Majelis Buku Parjuga Society menghadirkan ruang diskusi yang mengajak publik melihat sekolah dari sudut pandang berbeda.

Yakni dengan membedah buku Manusia Merdeka yang Memerdekakan, karya Tokoh Perempuan Sumenep Nunung Fitriana.

Baca Juga: Satu Terduga Pelaku Curwan di Desa Janteh, Kwanyar, Belum Ditangkap, Polisi Baru Ringkus Empat Tersangka

Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pemaparan isi buku, cerita di balik proses penulisan hingga dialog dengan peserta, direkam untuk ditayangkan melalui kanal YouTube dan Spotify.

Tujuannya, gagasan yang dibahas bisa dijangkau khalayak yang lebih luas. Diskusi dan bedah buku tersebut berlangsung di Sekretariat Parjuga Society, Sabtu (11/7) di Desa Gedungan, Batuan, Sumenep.

Nunung mengutarakan, buku tersebut lahir dalam waktu yang tidak singkat. Dia banyak menyimpan kegelisahan terhadap sistem pendidikan sejak duduk di bangku kuliah sekitar dua dekade lalu.

Berbagai pengalaman bertemu tokoh-tokoh pendidikan alternatif semakin menguatkan pandangannya bahwa sekolah semestinya menjadi ruang yang memerdekakan, bukan sekadar tempat mengejar angka dan klasifikasi kemampuan.

Pemantiknya, antara lain setelah berjumpa langsung dengan Kiai Ahmad Bahrudin (Pendiri Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga), Kiai Agus Sunyoto (Pendiri Pesantren Global Tarbiyatul Arifin Malang).

Lalu, Bapak Toto Rahardjo (Pendiri Komunitas Kiai Kanjeng Yogyakarta), Ibu Sri Wahyaningsih (Pendiri Sanggar Anak Alam atau SALAM Yogyakarta).

Baca Juga: MUI Desak Pemerintah Segera Bentuk UU Pidana LGBTQ

”Termasuk pemikiran Paulo Freire dan Ivan Illich,” ujar Nunung kepada JPRM. 

Sebagai seorang pendidik, Nunung tidak berhenti pada tataran gagasan. Berbagai inovasi juga telah dilakukan di SDN 1 Bluto yang dipimpinnya.

Salah satunya melalui Festival Literasi yang berhasil melahirkan tiga buku karya para siswa. Baginya, sekolah harus menjadi ruang yang menghargai setiap proses dan karya peserta didik.

”Kami ingin mengembalikan makna pendidikan. Menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan dan membahagiakan bagi semuanya. Jadi, seluruh karya mereka kita apresiasi,” ucapnya.

Dalam bukunya, Nunung membagi pembahasan ke dalam dua bagian, yakni Beyond dan Back Through.

Dijelaskan, kedua bagian tersebut mengajak pembaca meninjau kembali praktik pendidikan yang selama ini dijalankan. 

Mulai dari keberanian menghadirkan pembaruan, menjaga kebahagiaan peserta didik, hingga memutus mata rantai trauma yang kerap muncul dalam proses belajar.

Melalui buku tersebut, Nunung menginginkan lahir lebih banyak ruang refleksi di kalangan guru, orang tua, maupun para pemangku kebijakan.

Menurutnya, perubahan pendidikan harus dimulai dari perubahan cara memandang manusia sebagai subjek utama pembelajaran.

”Saya harap buku ini memberi kontribusi untuk dunia pendidikan. Semoga bisa menjadi panduan praktis bagi para guru, orang tua, dan segenap pemangku kebijakan,” harapnya.

Baca Juga: Denza D9 Dark Gold Resmi Hadir dengan Balutan Hitam-Emas Mewah, Logo Berlapis Emas Asli dan Harga Melonjak hingga Rp 79 Jutaan

Founder Parjuga Society Kiko Anwar menjelaskan bahwa Parjuga Society merupakan komunitas literasi yang bergerak di bidang seni, sosial, dan budaya.

Komunitas itu dihadirkan sebagai ruang kolaborasi bagi masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pengembangan literasi sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya lokal.

”Komunitas ini baru didirikan pada awal Juni 2026. Harapannya, dapat menjadi wadah lahirnya berbagai gagasan, diskusi, hingga gerakan kebudayaan yang melibatkan berbagai kalangan, khususnya generasi muda,” terangnya. 

Kiko mengatakan, Parjuga Society dibangun dengan semangat untuk menghadirkan narasi yang lebih utuh tentang Madura.

Karena itu, komunitas tersebut mengusung tagline Madura se Parjuga sebagai identitas sekaligus arah gerakan yang akan dijalankan.

”Dengan tagline Madura se Parjuga, kami ingin menunjukkan wajah Madura yang kaya akan literasi, seni, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Madura memiliki banyak hal positif yang layak diperkenalkan kepada publik secara lebih luas,” ucapnya. 

Kiko menambahkan, Parjuga Society juga berikhtiar meluruskan stigma mainstream yang selama ini masih melekat di sebagian masyarakat luar terhadap Madura.

”Kami ingin menghadirkan perspektif yang lebih berimbang. Madura tidak hanya bisa dilihat dari stigma yang berkembang, tetapi juga dari kekayaan budaya, tradisi, dan semangat literasi masyarakatnya,” tandasnya. (tif/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Majelis Buku Parjuga Society #Manusia Merdeka yang Memerdekakan #makna pendidikan #bedah buku #pembaruan