Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

DPRD Sumenep  Atensi Kekurangan Siswa SRT Jenjang SD

Amin Basiri • Jumat, 3 Juli 2026 | 08:15 WIB
AKTIF: Siswa tengah beraktivitas di SRT di Jalan Raya Lenteng, Batuan, Sumenep.
AKTIF: Siswa tengah beraktivitas di SRT di Jalan Raya Lenteng, Batuan, Sumenep.

SUMENEP, RadarMadura.id – Minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 49 di Kabupaten Sumenep rendah.

Hingga saat ini kuota jenjang SD masih jauh dari kebutuhan, sedangkan jenjang SMP melebihi target yang disediakan.

Berdasarkan data Tim Program Keluarga Harapan (PKH) Sumenep, Kementerian Sosial RI hanya menyediakan satu rombongan belajar (rombel) untuk SD dan SMP dengan kapasitas 30 siswa per rombel. 

Namun, hingga kini, calon siswa SD baru mencapai delapan orang, sedangkan pendaftar SMP telah mencapai 37 orang.

Kondisi tersebut mendapat perhatian anggota Komisi IV DPRD Sumenep Sami'oeddin. Menurutnya, minimnya jumlah pendaftar di tingkat SD harus menjadi catatan dan evaluasi. 

”Program ini disiapkan untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pendidikan yang layak,” tegasnya. 

Dia meminta pemerintah daerah mencari akar persoalan rendahnya minat masyarakat, termasuk kekhawatiran orang tua terhadap sistem pendidikan berasrama. 

Menurutnya, pendekatan persuasif melalui pemerintah desa dan tokoh masyarakat perlu diperkuat agar kuota siswa dapat terpenuhi tanpa mengabaikan hak anak memperoleh pendidikan.

Koordinator PKH Sumenep Hairullah mengatakan, tim PKH kabupaten bersama tim kecamatan masih terus melakukan penjaringan guna memenuhi kuota siswa jenjang SD. 

”Untuk yang SMP karena sudah melebihi batas, kami akan melakukan pleno dengan stakeholder untuk ditetapkan sebagai siswa SRT 49,” katanya.

Dia menambahkan, calon siswa yang berhak mengikuti pendidikan di SRT merupakan anak-anak yang masuk dalam data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN) desil 1 dan 2. Atau berasal dari keluarga penerima program keluarga harapan (PKH). 

Menurutnya, belum terpenuhinya kuota siswa disebabkan masih banyak orang tua yang enggan melepas anaknya tinggal di asrama. 

”Kendala lainnya, karena siswa sekarang sudah banyak yang mendaftarkan diri di sekolah-sekolah sekitarnya,” tandasnya. (tif/han)

Editor : Amin Basiri
#SRT #siswa #sumenep #kuota