SUMENEP, RadarMadura.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menutup permanen sumur bor yang mengeluarkan gas di Dusun Somangkaan, Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan.
Itu dilakukan guna menghindari risiko yang membahayakan masyarakat.
Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setkab Sumenep Dadang Dedy Iskandar mengatakan, pihaknya telah menutup permanen sumur bor tersebut.
Baca Juga: PGRI Sumenep Komitmen Wujudkan Guru Hebat, Sekkab Dorong Program Inovatif, Responsif, dan Adaptif
Dia khawatir sumur tersebut berbahaya jika pengeboran tetap dilanjutkan.
”Sudah ditutup permanen untuk menghindari risiko bahaya apabila tetap dibuka dan pongeboran tetap dilanjutkan,” katanya.
Dadang menjelaskan, pihaknya telah mengambil sampel air dari sumur bor tersebut guna dilaporkan dan diuji laboratorium ke Pemprov Jatim.
Meski begitu, pihaknya belum menerima hasil uji laborarorium air tersebut.
”Kami terus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim. Kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari pemprov,” jelasnya.
Berdasarkan pemantauan di lokasi, tekanan gas yang keluar dari sumur bor tersebut kecil dan tidak berbahaya bagi masyarakat.
Meski begitu, sumur bor harus ditutup permanen untuk menghindari bahaya.
Menurut Dadang, temuan itu tidak bisa dikategorikan sebagai sumber gas ekonomis.
Pasalnya, kegiatan eksplorasi migas umumnya dilakukan pada kedalaman lebih dari 3.000 meter.
”Kalau dangkal seperti ini, masih termasuk gas permukaan dan belum bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri,” terangnya.
Sumur yang mengandung gas terjadi digali di lahan milik Zamroni, 40.
Bau gas itu tercium saat pekerja tengah melakukan pelebaran casing pada sumur bor.
Pekerja sempat melakukan uji coba dengan menyalakan korek api di atas lubang paralon. Hasilnya, api menyala dari lubang itu.
Baca Juga: Pentas Seni SMAN 1 Ambunten Berlangsung Semarak
Karena itu, pemerintah desa dan pemilik sumur memutuskan untuk menghentikan pengeboran.
Langkah itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar semburan gas tidak semakin besar dan membahayakan keselamatan warga di sekitar lokasi.
”Dari situ diketahui bahwa gas yang keluar bisa terbakar,” kata Kepala Desa Karduluk, Ahmad Faruq. (tif/bil)
Editor : Amin Basiri