SUMENEP, RadarMadura.id – Kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lebbeng Timur, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, perlu dievaluasi.
Pasalnya, sudah dua kali menyajikan menu program makan bergizi gratis (MBG) tidak layak konsumsi karena bau.
Pada Senin (2/2) dapur tersebut menyalurkan MBG berbau busuk.
Kasus tersebut terjadi di Raudhatul Athfal (RA) As-Salamah, Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, dan viral di berbagai platform media sosial.
Kepala SPPG Lebbeng Timur Moh. Nurkholis membenarkan adanya kejadian tersebut.
”Itu bumbunya saja yang memang baunya tidak enak. Kalau ayamnya tidak basi,” bantahnya.
Menurut Kholis, menu MBG itu berbau tidak sedap akibat terjadi kesalahan teknis dalam proses pengolahan.
Ayam yang disajikan matang lebih awal dari pada sajian yang lainnya.
”Itu kesalahan teknis, karena bumbunya tidak dipisah dengan ayam,” tuturnya.
Kholis berdalih, penyajian menu ayam bakar memang berbeda dari yang lain.
Seharusnya, bumbu yang digunakan dipisah dari ayam untuk mencegah potensi cepat berbau. ”Ini karena kelalaian kami,” ucapnya.
Kejadian serupa kembali terjadi pada Kamis (12/2). Dapur tersebut kembali menyalurkan menu MBG yang tidak layak konsumsi.
Menu ayam yang disajikan kepada penerima manfaat berbau busuk.
Ahli Gizi SPPG Lebbeng Timur Yusfi Nur Laili Hidayati membenarkan peristiwa tersebut.
Dia menjelaskan, terdapat kesalahan teknis dalam proses pengolahan ayam.
Setelah ayam dibumbui tidak digoreng lagi, sehingga matangnya tidak sempurna.
”Itu kan sudah dimasukkan ke ompreng. Jadi setelah beberapa jam pendistribusian menimbulkan bau yang tidak enak,” terangnya.
Dia mengaku, saat ini SPPG Lebbeng Timur sudah didampingi chef. Dirinya juga rutin memantau proses memasak yang dilakukan oleh tim.
Menurutnya, tim masak sudah menanyakan kepada chef apakah ayam suwir itu harus digoreng lagi atau tidak.
”Chefnya bilang tidak usah. Saya kira dengan adanya pernyataan chef itu akan aman,” ungkapnya.
Namun, meski sudah dua kali menyalurkan menu tidak layak konsumsi pada penerima, Yusfi memaklumi kesalahan chef tersebut.
Alasannya, chef yang ada di dapurnya masih beradaptasi karena masih baru.
”Evaluasi di internal kita sudah beberapa kali dilakukan. Tapi ini chefnya masih berjalan sekitar satu mingguan, jadi butuh adaptasi. Chefnya kan sebelumnya bekerja di restoran, jadi butuh adaptasi karena harus memasak dengan porsi ribuan,” tandasnya. (tif/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti