Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

BPRS Bhakti Sumekar Berbagi dengan Nasabah 

Amin Basiri • Kamis, 5 Februari 2026 | 07:11 WIB
BERBAGI: Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar memberikan hadiah pada pengunjung pertama di kantor pusat BPRS Bhakti Sumekar, Selasa (3/2).
BERBAGI: Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar memberikan hadiah pada pengunjung pertama di kantor pusat BPRS Bhakti Sumekar, Selasa (3/2).

SUMENEP, RadarMadura.id – BPRS Bhakti Sumekar menjadikan momentum Nisfu Sya’ban dengan aksi berbagi dengan nasabah, Selasa (3/2).

Pengunjung pertama di Kantor BPRS Bhakti Sumekar langsung diberi hadiah. Kegiatan itu bagian dari refleksi sosial dan kesadaran finansial umat. 

Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar menyampaikan, pemberian hadiah tersebut merupakan kegiatan sederhana.

Tujuannya, sebagai pengingat bahwa spiritualitas harus berjalan beriringan dengan kepedulian dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Hairil, momentum Nisfu Sya’ban menjadi momen evaluasi diri. ”Ini bukan hanya peristiwa religius, tapi ruang perenungan. Di dalamnya ada pesan tentang kejujuran, amanah, dan keberanian mengevaluasi cara hidup terutama di tengah tantangan ekonomi,” ujarnya. 

Menurut Hairil, kegiatan berbagi dengan nasabah sebagai pesan simbolik bahwa bank syariah tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan, tetapi juga mitra sosial masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Bank semakin dekat, manusiawi dan hadir dalam momen reflektif seperti saat menjelang Ramadan. 

Dia mengungkapkan, momentum Nisfu Sya’ban memiliki relevansi kuat dengan literasi keuangan umat.

Hairil menegaskan bahwa literasi keuangan bukan hanya urusan teknis perbankan, melainkan bagian dari kesadaran iman.

Mengelola keuangan secara bijak merupakan wujud nyata nilai amanah dan tanggung jawab.

”Literasi keuangan itu bukan hanya sekadar pintar hitung, tapi sadar nilai,” ungkapnya. 

Selain itu, Hairil juga menyoroti kecenderungan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Menurutnya, bulan puasa kerap bergeser menjadi momentum belanja berlebih, padahal esensi puasa adalah pengendalian diri. 

”Puasa itu menahan, bukan menambah. Kalau Nisfu Sya’ban dijadikan titik sadar, Ramadan seharusnya lebih sederhana, bukan justru boros,” tuturnya. 

Dia menambahkan, spiritualitas tanpa pengendalian diri dalam urusan ekonomi hanya akan melahirkan kelelahan batin.

Menurutnya, malam Nisfu Sya’ban seharusnya menjadi titik perubahan sikap hidup, bukan sekadar seremoni tahunan. 

”Kalau ingin kuat, maka harus kuat perencanaan hidupnya, spiritualitas dan kecerdasan finansialnya,” tandasnya. (tif/bil)

Editor : Amin Basiri
#nasabah #sumenep #bprs bhakti sumekar #berbagi