SUMENEP, RadarMadura.id – Pemkab Sumenep merespons insiden tumpahan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek.
Luberan minyak itu diduga berasal dari kapal tongkang Indo Ocean Marine yang kandas saat diterjang cuaca buruk.
Kabag Perekonomian Energi dan Sumber Daya Alam (SDA) Setkab Sumenep Dadang Dedy Iskandar mengatakan, pihaknya belum menerima laporan resmi dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Dungkek.
”Tapi secara informal sudah menerima informasi awal terkait kejadian itu,” katanya.
Dadang memastikan akan mengambil langkah cepat. Dia berupaya melakukan penanganan awal untuk mengamankan dan mensterilkan area pesisir yang terdampak tumpahan minyak.
”Kami akan bergerak dalam waktu dekat untuk mengamankan kondisi di lokasi, mencegah dampak pencemaran meluas,” ujarnya.
Menurutnya, pemkab akan bersurat kepada pihak perusahaan atau pemilik kapal agar bertanggung jawab atas tumpahan minyak tersebut, terutama dalam proses penanganan dan pemulihan lingkungan.
”Kami akan menyurati pihak kapal agar ada tanggung jawab atas kejadian di Gili Iyang,” ucapnya.
Ditambahkan, penanganan teknis akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep.
Sebab, pihaknya ingin memastikan tumpahan minyak tidak merusak ekosistem laut dan tidak mengganggu aktivitas nelayan setempat.
Sekadar diketahui, sebelumnya, kapal tongkang Indo Ocean Marine mengangkut CPO dari Kalimantan menuju Gresik kandas menabrak karang di perairan utara Pulau Gili Iyang akibat cuaca buruk.
Benturan diduga menyebabkan kebocoran pada lambung. Sehingga, puluhan ton minyak CPO tumpah dan mencemari pantai.
Jumanto selaku bosun atau ABK senior kapal tongkang Indo Ocean Marine bercerita, kapal tersebut mengangkut sekitar 3.000 kiloliter CPO dari Kalimantan Selatan dengan tujuan Gresik pada Rabu (21/1).
Namun, saat melewati perairan Sumenep pada Kamis (22/10) sekitar pukul 18.50 diterjang cuaca buruk. Kapal tongkang yang ditarik tugboat memilih transit di sekitar Pulau Gili Iyang.
”Saat itu cuaca buruk. Gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras mengguyur terus-menerus.
Sekitar pukul 21.00, ombak besar tiba-tiba menghantam tongkang hingga akhirnya terseret ke pesisir utara Pulau Gili Iyang,” kata Jumanto.
Karena khawatir terkena dampak, tugboat yang menarik tongkang memilih melepaskan tali. Tongkang pun ditinggal dalam kondisi terombang-ambing di laut.
Hingga Kamis (22/1), Jumanto bersama tiga ABK lainnya, serta satu personel anggota kepolisian bertahan di atas tongkang. ”Tongkang memang sempat miring ke kanan,” tuturnya.
Dia lalu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak perusahaan. Hasilnya, perusahaan mengarahkan untuk meminta bantuan kepada aparat yang berwenang.
Akhirnya, mereka pun berkomunikasi dengan basarnas yang ada di pos SAR Kalianget.
”Kamis sekitar pukul 06.00, saya bersama tiga ABK dan satu anggota polisi mengevakuasi diri secara mandiri. Warga membantu proses evakuasi dan dibawa ke rumah mereka. Saat itu saya baru bisa menghubungi keluarga, istri, kerabat, dan kawan kerja,” ungkapnya.
Jumanto mengakui, tumpahan minyak itu memang berasal dari kapal. Sebab, lambung kiri diduga bocor setelah terjadi benturan dengan karang.
”Setahu saya, saya tidak melihat langsung minyaknya tumpah. Tapi waktu dicek, ada kebocoran di lambung kiri,” ulasnya.
Dia mengaku, rute pengangkutan CPO dari Kalimantan Selatan menuju Gresik melalui perairan Sumenep baru kali pertama.
Baca Juga: Honda PCX 160 2026 Resmi Hadir, Skutik Premium yang Fokus Nyaman dan Irit untuk Harian
Sebelumnya, kapal terbiasa menempuh perjalanan laut dengan rute Palembang dan Lampung.
Sekadar mengingatkan, empat ABK dan satu personel kepolisian yang berada di kapal tongkang Indo Ocean Marine dievakuasi basarnas dan warga.
Mereka adalah Jumanto, 45; Wibo Ari Murdiyanto, 20; Dwi Kurnianto, 20; Sudirman, 45; dan Briptu Ribut Prasetyo.
Moh. Yusuf, salah seorang warga Kecamatan Dungkek membenarkan tumpahan minyak tersebut.
Meski begitu, dia tidak tahu penyebab minyak tersebut tumpah. ”Warga panik karena tumpahan minyak dikhawatirkan berdampak pada lingkungan,” tandasnya. (tif/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti