Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

162 Desa di Kabupaten Sumenep Berisiko Alami Bencana, BPBD: Penanganan Bersifat Responsif-Preventif

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 14 Desember 2025 | 22:05 WIB
Ilustrasi bencana hidrometeorologi. (Yusron)
Ilustrasi bencana hidrometeorologi. (Yusron)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Kabupaten Sumenep memiliki 334 desa dan kelurahan yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 162 desa diketahui memiliki risiko terdampak bencana.

Data itu terungkap setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep menyusun buku panduan rencana penanggulangan bencana (RPB). Dokumen tersebut menjadi dasar pemetaan sekaligus penguatan mitigasi bencana di tingkat daerah.

Sekretaris BPBD Sumenep Abd. Kadir menjelaskan, penyusunan RPB dilakukan untuk memperkuat upaya pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dalam prosesnya, BPBD bekerja sama dengan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

”Kerja sama dengan ITN Malang ini untuk melakukan pemetaan dan kajian risiko bencana. Masukan data berasal dari BNPB, InaRISK, serta catatan kejadian bencana yang kerap terjadi di Sumenep,” ujarnya.

Kadir menyampaikan, dari 162 desa yang berpotensi mengalami bencana tersebut, 18 desa masuk kategori rawan tinggi, 58 desa berkategori rawan sedang, dan 86 desa lainnya berada pada tingkat kerawanan rendah.

”Potensi bencana yang teridentifikasi meliputi banjir, kekeringan, abrasi, hingga gelombang pasang,” jelasnya.

Ke depan, buku kajian risiko bencana (KRB) dan RPB itu akan menjadi acuan bagi perangkat desa, relawan, hingga masyarakat dalam memahami ancaman bencana di wilayah masing-masing. Dokumen tersebut memuat peta risiko, langkah kesiapsiagaan, serta prosedur yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.

”Penanganan bencana tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga preventif. Karena itu, buku ini sangat penting sebagai panduan,” tegas Kadir.

Selain itu, keberadaan buku tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi pemerintah desa dalam menyusun langkah antisipatif. Mulai dari penentuan lokasi titik kumpul, identifikasi kelompok rentan, hingga perencanaan kebutuhan logistik darurat.

”Tidak berhenti di buku saja, kami juga akan melakukan sosialisasi mitigasi bencana. Ini penting agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana,” pungkasnya. (iqb/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#bnpb #potensi bencana #kabupaten sumenep #kajian risiko bencana #BPBD Sumenep #ITN Malang #InaRisk #risiko terdampak bencana #Mitigasi Bencana #preventif #RPB #Responsif