SUMENEP, RadarMadura.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Salah satu cara yang dilakukan dengan melakukan gerakan tanam padi dengan menerapkan metode system of rice intensification (SRI).
Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid mengatakan, metode SRI merupakan teknologi budidaya unggulan yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan.
Metode tersebut memiliki banyak keunggulan dibandingkan cara tanam konvensional.
"Ada banyak keunggulannya, pertama dengan menanam bibit di usia muda, yakni 15 hari setelah semai (HSS), memungkinkan masa produktif bibit itu akan jauh lebih bagus," katanya.
Pria yang akrab disapa Inung itu menuturkan, bibit muda yang ditanam di sawah berpotensi menghasilkan jumlah anakan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan metode biasa yang menggunakan bibit berusia sekitar 30 HSS.
"Anakan yang dihasilkan berpotensi sangat banyak dibanding metode persemaian biasa yang dilakukan petani," tuturnya.
Inung menyatakan, banyaknya jumlah anakan nantinya akan sangat berpengaruh pada jumlah bulir atau malai tanaman.
Sehingga, pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan hasil panen.
Selain itu, dengan banyaknya anakan, produktivitas tanaman juga akan semakin tinggi.
"Ini salah satu cara meningkatkan produktivitas selain menggunakan bibit unggul, yakni dengan menggunakan metode SRI," terangnya.
Sekadar diketahui, gerakan tanam padi tersebut dilakukan di Desa Beraji, Kecamatan Gapura.
Acara tersebut, dilakukan bersama dengan kelompok tani Maju Jaya dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat.
DKPP berharap dan meminta petani di wilayah lain untuk juga mengadopsi metode tersebut. (tif/yan)
Editor : Amin Basiri