SUMENEP, RadarMadura.id – Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep membentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Oktober lalu. Namun, lima TACB yang direkrut belum dapat melaksanakan tugasnya.
Kepala Disbudporapar Sumenep Mohamad Iksan menyatakan, terdapat lima orang yang lolos seleksi TACB.
Mereka diharapkan dapat melakukan identifikasi, penilaian, hingga pengusulan benda dan bangunan bersejarah di Kota Keris.
Namun semua itu baru dapat dilakukan tahun depan. Alasannya masalah anggaran.
"Sesuai ketentuan, setiap objek yang dianggap memiliki nilai sejarah akan dilaporkan ke pemerintah kabupaten, kemudian diteliti oleh TACB untuk selanjutnya diusulkan menjadi cagar budaya," terangnya.
Saat ini, Sumenep memiliki sekitar sembilan cagar budaya. Yakni, Keraton Sumenep, Masjid Jamik, Asta Tinggi, Asta Belingi, kawasan Kota Tua, dan Benteng Kalimook.
Namun, sejumlah situs lain dinilai layak diajukan, seperti Masjid Ladju dan Asta Panaongan.
"Bangunan yang berusia lebih dari 50 tahun seharusnya segera diusulkan untuk mendapatkan status cagar budaya. Dengan begitu, setiap proses perbaikan wajib mempertahankan autentikasinya," tegasnya.
Iksan menambahkan, terdapat beberapa situs bersejarah saat ini masih menghadapi persoalan pengelolaan.
Yakni Benteng Kalimook, yang statusnya sebagai aset Dinas Peternakan Pemprov Jawa Timur.
Jika kewenangan pengelolaan diserahkan ke Pemkab Sumenep, maka pemkab dapat melakukan perawatan serupa.
Baca Juga: Kajari Sumenep Komitmen Tuntaskan Penanganan Perkara sebelum Tutup Tahun
Hal serupa terjadi di kawasan Kota Tua yang dinilai kurang terawat meski berada di bawah pengelolaan PT Garam.
"Jika pengelolaan diserahkan kepada Pemkab Sumenep, tentu akan kami rawat dengan lebih maksimal," imbuhnya.
Saat ini, hanya Keraton Sumenep yang berada dalam pengelolaan langsung pemerintah daerah. Sementara situs lain berada di bawah yayasan masing-masing.
"Karena itu, dengan terbentuknya TACB baru, kami menargetkan percepatan usulan cagar budaya agar perlindungan terhadap bangunan bersejarah bisa lebih optimal," tandasnya. (tif/jup)
Editor : Amin Basiri