SUMENEP, RadarMadura.id - Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pasar di Kabupaten Sumenep kembali terancam tak mencapai target.
Hingga November ini, capaian PAD baru tembus 79 persen atau sekitar Rp 1,97 miliar dari target Rp 2,6 miliar.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP) Sumenep Idham Halilmengakui realisasi PAD sektor pasar masih rendah.
Menurut dia, pihaknya harus bekerja ekstra keras untuk mengejar kekurangan dalam waktu tersisa.
”Kami akan maksimalkan potensi yang ada. Dengan sisa waktu ini, kami tetap optimistis target bisa tercapai, ujarnya kemarin (12/11).
Idham menjelaskan, rendahnya capaian PAD pasar dipengaruhi oleh belum stabilnya operasional pasar hewan dalam dua tahun terakhir.
Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat sejumlah pasar hewan sempat tutup, padahal kontribusi terbesar PAD pasar berasal dari sektor tersebut.
”Pendapatan terbesar kami memang dari pasar hewan. Kalau pasar sapi sepi, otomatis kami kesulitan memenuhi target, terangnya.
Tahun sebelumnya, target PAD sektor pasar sebesar Rp 2 miliar juga tidak tercapai.
Meski begitu, pada tahun ini target justru dinaikkan menjadi Rp 2,6 miliar, meski kondisi di lapangan belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari menegaskan, DKUPP tidak boleh terus beralasan pasar hewan lesu.
Menurut dia, instansi terkait harus kreatif mencari sumber pendapatan lain.
”Harus ada strategi lain untuk mengoptimalkan PAD. Banyak potensi di pasar tradisional dan retribusi lain yang bisa dimaksimalkan, tegasnya.
Juhari mengingatkan, PAD menjadi sumber penting pembiayaan pembangunan daerah.
Jika realisasi PAD terus rendah, dikhawatirkan akan berdampak pada lambatnya pembangunan yang menyentuh masyarakat secara langsung.
”DKUPP harus lebih aktif, jangan menunggu, tapi jemput bola.
Kalau pasar hewan belum stabil, harus ada alternatif sumber PAD lain yang digarap serius, pungkasnya. (tif/han)
Editor : Amin Basiri