Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Harga Olahan Mesin RDF Masih Belum Pasti

Amin Basiri • Sabtu, 8 November 2025 | 15:03 WIB
FOKUS: Wakil Bupati Sumenep Imam Hasyim saat melakukan PKS di Pendopo Keraton Sumenep, Kamis (6/11).
FOKUS: Wakil Bupati Sumenep Imam Hasyim saat melakukan PKS di Pendopo Keraton Sumenep, Kamis (6/11).

SUMENEP, RadarMadura.id -;Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep melalui dinas lingkungan hidup (DLH) mulai menunjukkan hasil konkret dari pengelolaan sampah.

Pengiriman perdana hasil olahan sampah berupa refuse derived fuel (RDF) sudah dilakukan. Namun, harga jualnya hingga kini belum ditetapkan.

Kepala UPT Pengelolaan Sampah DLH Sumenep Achmad Junaidi menyampaikan, pemkab telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI)

Sebagai tindak lanjut, sebanyak 24,1 ton RDF hasil olahan mesin milik DLH sudah dikirim.

”Ini capaian luar biasa. Sampah yang selama ini menjadi persoalan kini bisa diolah menjadi sumber energi bernilai ekonomis, ujarnya kemarin (7/11).

Meski demikian, Junaidi menegaskan, harga jual RDF per kilogramnya belum bisa dipastikan.

PT SBI masih akan melakukan pengecekan terhadap kualitas RDF yang dikirim dari Sumenep.

”Setelah proses pengecekan selesai, baru bisa diketahui harga serta biaya transportasinya, terangnya.

Junaidi menambahkan, olahan sampah yang diproduksi terbagi dua jenis, yakni organik dan nonorganik.

Keduanya memiliki cara pengangkutan yang berbeda. ”Untuk pengiriman, pihak ketiga yang akan menangani. Kami hanya menyiapkan bahan olahannya, tambahnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Sumenep Akhmadi Yasid menyoroti efektivitas penggunaan mesin pengolah sampah senilai Rp 2,8 miliar tersebut.

Dia berharap alat itu benar-benar bisa memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

”DLH harus mampu membuktikan komitmennya.

Mesin itu jangan hanya sekadar jadi alat daur ulang, tapi juga harus berdampak pada peningkatan PAD.

Karena hasil olahannya kan dijual ke pihak ketiga, tegasnya. (tif/han

Editor : Amin Basiri