Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perjalanan Indra Wahyudi, dari Aktivis Mahasiswa ke Wakil Ketua DPRD Sumenep Tepis Kebuntuan Komunikasi melalui Live Medsos

Amin Basiri • Jumat, 27 Juni 2025 | 14:27 WIB

 

AKTIF: Wakil Ketua DPRD Sumenep Indra Wahyudi.
AKTIF: Wakil Ketua DPRD Sumenep Indra Wahyudi.

SUMENEP, RadarMadura.id - Pengalaman sebagai aktivis mahasiswa menjadi modal berharga untuk melenggang ke parlemen.

Indra Wahyudi juga tidak canggung bertemu berbagai karakter masyarakat. Jauh sebelum terjun ke dunia politik, dia pernah menjadi tenaga ahli di Senayan.

Indra kali pertama terpilih sebagai wakil rakyat pada periode 2014–2019. Dia maju dari Partai Demokrat.

Pada periode pertama Indra menjadi anggota di komisi III. Selanjutnya, pada periode 2019–2024 dia tidak hanya dipercaya untuk menjadi wakil rakyat, tetapi juga diberi amanah oleh partai sebagai wakil ketua DPRD Sumenep.

Tak berhenti di situ. Pada periode 2024–2029 dia tetap menduduki kursi wakil ketua DPRD. Dia merasakan menjadi wakil rakyat sejak gedung dewan di Kelurahan Bangselok hingga gedung baru saat ini yang berdiri di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan.

Indra bercerita, sebelum terjun ke dunia politik, dia merupakan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan. Di organisasi ini dia sempat mengemban amanah sebagai wasekum.

Kemudian, setelah lulus dari kampus, dia sempat bekerja sebagai junior manajer di salah satu bank swasta.

”Saya juga sempat mendirikan sebuah lembaga pengkajian anggaran publik, konsentrasinya adalah untuk membantu masyarakat dan menganalisis potensi APBD,” kenangnya Kamis (26/6).

Selain itu, alumnus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu pernah menjadi tenaga ahli di Komisi IV DPR RI.

Saat itu, dia membidangi berbagai program berbasis kemasyarakatan. Seperti kelompok tani, pokdakan, lembaga masyarakat mandiri pondok pesantren.

”Ini kan linier. Jadi, sebelum menjadi anggota DPRD, saya sudah sering terjun ke masyarakat untuk merealisasikan berbagai program,” paparnya.

Dari berbagai pengalaman itulah yang menjadi latar belakang dan memotivasi dirinya untuk terjun ke dunia politik.

Sebab, menurutnya, dari berbagai pengalaman itu, dia dituntut untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ke masyarakat.

Berkat berbagai program yang dia gelontorkan ke masyarakat Sumenep, para kiai, tokoh masyarakat, kelompok tani, nelayan, meminta dirinya untuk maju menjadi anggota DPRD.

Menurutnya, masyarakat menilai bahwa dirinya sudah pantas untuk duduk menjadi wakilnya di parlemen. Sebab, sebelum menjadi anggota DPRD sudah banyak menggelontorkan berbagai program ke masyarakat.

”Itulah dasar saya sehingga memutuskan untuk maju, dan alhamdulillah terpilih, bahkan dengan perolehan suara tertinggi, dan sampai saat ini sudah dua kali dipercaya menjadi wakil ketua DPRD Sumenep,” jelasnya.

Ketua DPC Partai Demokrat Sumenep itu menyatakan, sejak awal dirinya tetap berkomitmen untuk terus mengawal suara rakyat. Indra mempunyai cara unik untuk menarik inspirasi dari masyarakat. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial seperti TikTok.

”Saya sering memanfaatkan medsos untuk menyerap aspirasi masyarakat,” ucapnya. Menurutnya, dari live TikTok itu banyak masyarakat yang memberikan respons baik, bahkan memberikan masukan dan kritikan.

Dalam posisi itu, menurutnya tidak ada kebuntuan komunikasi antara DPRD dengan masyarakat.

Sebab, selama ini muncul kesan bahwa DPRD sebagai wakil rakyat sangat susah untuk diajak berkomunikasi.

”Saya ingin menghilangkan stigma itu. Di live itu semuanya serba terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi, baik masukan maupun kritikan dari masyarakat,” tutupnya. (tif/luq)

Editor : Amin Basiri
#Indra Wahyudi #dprd sumenep #aktivis