
SUMENEP, RadarMadura.id – Inflasi di Kabupaten Sumenep pada Mei 2026 tercatat di angka 0,16 persen secara bulanan atau month-to-month.
Sementara inflasi tahun kalender atau year-to-date hingga Mei 2026 mencapai 2,07 persen.
Angka tersebut menempatkan Sumenep sebagai daerah dengan inflasi bulanan terendah kedua setelah Kota Probolinggo, di antara wilayah yang dipantau.
Hal ini disampaikan Kepala BPS Kabupaten Sumenep Handoyo Wijoyo.
Dia menyampaikan, inflasi bulanan dipicu oleh kenaikan harga pada tiga kelompok pengeluaran utama.
Yakni, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,16 persen.
Lalu disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran dengan andil 0,10 persen.
”Ada juga kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 0,05 persen,” ujarnya.
Handoyo mengungkapkan, pada kelompok makanan dan minuman, komoditas yang paling dominan memengaruhi inflasi adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng.
Setiap komoditas tersebut menyumbang andil sebesar 0,08 persen.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




