Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kisah Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep, Berdiri di Lingkungan Masyarakat yang Keras

Achmad Andrian F • Rabu, 19 Maret 2025 | 17:02 WIB

 

MEGAH: Keberadaan Ponpes At-Taufiqiyah, Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep. (PONPES AT-TAUFIQIYAH UNTUK JPRM)
MEGAH: Keberadaan Ponpes At-Taufiqiyah, Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep. (PONPES AT-TAUFIQIYAH UNTUK JPRM)

SUMENEPRadarMadura.id – Pondok Pesantren At-Taufiqiyah berdiri sejak 1942. Lembaga pendidikan yang berlokasi di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, ini didirikan oleh KH Hasyim Ali. Sebelum berdiri pesantren, masyarakat di lingkungan tersebut terkenal keras.

Sejak berusia tujuh tahun, KH Hasyim Ali mondok di salah satu pesantren di Asta Barat, Desa Kebonangung, Sumenep.

Saat usia remaja, pindah ke Pondok Pesantren Lubangsa Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, dia pulang ke kediamannya di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto.

Setelah berkelana menimba ilmu, KH Hasyim Ali merintis Ponpes At-Taufiqiyah. Dia mengajar mengaji anak-anak kerabatnya serta warga sekitar. Saat itu, di lingkungan tersebut rawan terjadi tindakan kriminal, perjudian, dan lainnya.

Meski demikian, KH Hasyim Ali bekerja keras mengembangkan apa yang dirintisnya. Dia terus mengajak dan menarik simpati masyarakat untuk belajar ilmu agama. Di antaranya, membuat gebrakan perkumpulan jamiatul surah setiap malam Selasa.

Pihaknya berjalan kaki keliling kampung mengajak warga belajar ilmu agama. Upaya tersebut berhasil, banyak yang belajar agama dan mengaji pada KH Hasyim Ali.

MENDIDIK: KH Imam Hasyim (kiri) didampingi putranya, Syukron Jazila, berada di Ponpes At-Taufiqiyah, Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep. (PONPES AT-TAUFIQIYAH UNTUK JPRM)
MENDIDIK: KH Imam Hasyim (kiri) didampingi putranya, Syukron Jazila, berada di Ponpes At-Taufiqiyah, Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep. (PONPES AT-TAUFIQIYAH UNTUK JPRM)

Animo masyarakat untuk belajar ilmu agama meningkat. Sekitar 1950-an, KH Hasyim Ali membangun madrasah wajib belajar (MWB) yang kini menjadi MI At-Taufiqiyah.

Kemudian, dibangun muallimin yang kini menjadi MTs At-Taufiqiyah. Pada 1980–1982, baru dibangun MA dan sekarang sudah dilengkapi SMK At-Taufiqiyah.

Pada 1981, KH Hasyim Ali wafat. Kepemimpinan Ponpes At-Taufiqiyah diasuh putranya, yakni KH Imam Hasyim sampai sekarang. Jumlah santri saat ini mencapai 1.450 orang dari berbagai jenjang pendidikan.

Pengasuh Ponpes At-Taufiqiyah KH Imam Hasyim mengatakan, setelah mondok di Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, dirinya dipercaya mengasuh Ponpes At-Taufiqiyah.

Pesantren ini sengaja diberi nama At-Taufiqiyah oleh KH Hasyim Ali. Nama itu sudah melalui perenungan yang panjang.

”Alasannya, agar selalu mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah,” ucap pengasuh yang kini menjadi wakil bupati Kabupaten Sumenep itu.

Saat baru memimpin pesantren, belum ada kajian kitab ketika Ramadan. Kiai Hasyim mengadopsi kegiatan di Ponpes Nurul Jadid Paiton.

”Awalnya, saya mengumpulkan para wali santri untuk meminta pendapat terkait kegiatan selama bulan Ramadan. Alhamdulillah mereka setuju semua,” ujarnya.

Selama Ramadan, para santri mengikuti kajian kitab. Awalnya hanya dilakukan satu pekan. Namun, sekarang santri belajar kitab selama 21 hari selama ramadan, baik putra dan putri.

Kegiatannya berlangsung sejak pukul 07.00 sampai 11.00. Lalu, pada pukul 14.00 sampai 17.00 dan di waktu malam itu setelah salat Tarawih sampai pukul 22.00.

”Waktu awal-awal diterapkan, saya ngajar full satu hari. Baik yang pagi, siang, dan malam. Alhamdulillah direspons baik oleh masyarakat,” paparnya. (iqb/bil)

Editor : Achmad Andrian F
#KH Imam Hasyim #pondok pesantren #sumenep #KH Hasyim Ali