SUMENEP, RadarMadura.id – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumenep mengevaluasi perselisihan hasil pemilihan (PHP) Pilkada Serentak 2024.
Semua pengawas kecamatan dihadirkan dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Myze Sumenep, Jumat (21/2).
Di waktu bersamaan, Bawaslu juga menggelar deklarasi pusaka demokrasi.
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Sumenep Moh. Rusydi Zain ZA menyampaikan, pihaknya mengumpulkan semua panwascam untuk mengevaluasi munculnya PHP Kada Sumenep.
Banyak pelajaran berharga terkait PHP Kada. Di antaranya, saat menyusun keterangan di Mahkamah Konstitusi (MK) dan hal lainnya.
Rusydi mengutarakan, pelaksanaan pemilu dan pilkada tahun lalu dijadikan bahan diskusi dalam melihat perkembangan demokrasi di Bumi Sumekar.
Pengalaman dan masukan yang diterima dalam rentetan pesta demokrasi ini harus menjadi catatan bersama.
”Berkaitan data menjadi hal penting yang disorot pada saat perselisihan hasil atau pada tahapan Pilkada 2024,” katanya Jumat (21/2) malam.
Bawaslu meminta setiap panwascam membawa pusaka dalam pertemuan tersebut.
Sebab, dalam pertemuan tersebut Bawaslu Sumenep deklarasi pusaka demokrasi. Bawaslu menjadi simbol pusaka dalam pelaksanaan pesta demokrasi.
”Bawaslu sebagai tombak demokrasi. Jadi dalam pesta demokrasi, negara butuh Bawaslu dalam rangka mengawasi setiap tahapan yang dilakukan penyelenggara teknis,” ungkap Rusydi.
Rusydi menjelaskan, keris merupakan pusaka kebanggaan masyarakat Sumenep.
Identitas Sumenep sebagai Kota Keris diperkuat dengan dibangunnnya monumen keris. Menurutnya, keris memiliki nilai filosofi yang tinggi.
Keris bisa menjadi simbol kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan.
Melestarikan keris tidak cukup hanya mempertahankan identitas kebudayaan, tapi juga bentuk penghormatan terhadap peninggalan nenek moyang.
Nilai-nilai yang dikandung perlu diterapkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
”Menghormati keris tidak sekadar merawatnya, tapi juga menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam keris dalam perilaku sehari-hari. Bisa juga dengan memakai keris sebagai atribut. Syukur-syukur di setiap pintu kantor di atasnya terdapat keris,” tandasnya. (tif/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti