Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dua Relawan Dapur Progam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumenep Mundur, Ini Alasannya

Hera Marylia Damayanti • Senin, 3 Februari 2025 | 12:40 WIB
MENYAMPAIKAN: Kepala SPPG Sumenep Mohammad Kholilurrahman ketika diwawancara  awak media di dapur umum MBG di Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, Senin (13/1). (MOH. LATIF/JPRM)
MENYAMPAIKAN: Kepala SPPG Sumenep Mohammad Kholilurrahman ketika diwawancara  awak media di dapur umum MBG di Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, Senin (13/1). (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Sebanyak 47 orang yang bekerja sebagai relawan di dapur makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep harus berlapang dada.

Selain beban kerja yang berat, upah yang akan diterima di bawah upah minimum kabupaten (UMK).

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumenep Mohammad Kholilurrahman menyampaikan, semua relawan yang bekerja di dapur MBG menjadi tanggung jawabnya.

Selain itu, dia juga mengakui bahwa sampai saat ini tidak ada memorandum of understanding (MoU) antara relawan dengan SPPG.

”Hingga saat ini kami belum membuat MoU dengan semua relawan yang ada,” katanya Minggu (2/2).

Disinggung mengenai besaran upah yang akan diterima relawan tersebut, Kholilurrahman enggan menyebutkan.

Dia mengatakan, upah yang disediakan di bawah UMK. Alasannya, 47 orang tersebut statusnya relawan bukan karyawan.

”Soal gajinya tidak akan sesuai dengan UMK. Sebab, mereka itu relawan bukan karyawan,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Bayor itu memastikan, semua relawan yang bekerja di dapur MBG akan menerima gaji harian dan dicairkan setiap akhir bulan.

Gaji relawan diambil dari pagu anggaran yang diterima SPPG. Dia mengaku belum mengetahui besaran pagu anggaran yang akan diterima.

Pasangan suami istri Moh. Farid, 56, dan Asia Wulandari, 48, termasuk relawan dapur MBG.

Farid bertugas di bagian pemorsian, sedangkan istrinya bertugas mengolah sayur.

Namun, keduanya memilih mengundurkan diri. Warga Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, ini mengundurkan diri setelah dipindahtugaskan ke bagian lain.

Sementara istrinya memilih mundur karena jam kerja berbenturan dengan jadwal buka warung nasi yang telah dirintisnya sejak 13 tahun lalu.

Farid mengungkapkan, alasan lain di balik pengunduran diri mereka adalah tidak adanya kepastian mengenai besaran gaji yang akan diterima.

Menurutnya, sejak mengikuti pelatihan di Kodim 0827/Sumenep pada September 2024, tidak ada dokumen yang ditandatangani terkait honor. ”Tidak ada perjanjian sama sekali,” ujarnya.

Dia mengaku, sempat menanyakan kepada Kepala SPPG Mohammad Kholilurrahman mengenai kepastian honor yang akan diterima.

Tetapi, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. ”Saya hanya mengetahui bahwa nominal gaji relawan yang bertugas malam dan siang hari berbeda,” tandasnya. (tif/bil)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#relawan #Makan Bergizi Gratis #program #dapur MBG #umk #mundur #di bawah #bukan karyawan