Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Merawat Tradisi Sastra Santri melalui Maulid Sastra Kampoeng Jerami, Aktor Utama Sastra Pesantren Adalah Santri

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 14:50 WIB
LEGEND: Duet Encung Hariyadi Golden Boy (kanan) dengan Ketua DKS Turmedzi Djaka menutup diskusi publik Komunitas Kampoeng Jerami di Sumenep, Sabtu (24/8). (LUQMAN HAKIM/JPRM)
LEGEND: Duet Encung Hariyadi Golden Boy (kanan) dengan Ketua DKS Turmedzi Djaka menutup diskusi publik Komunitas Kampoeng Jerami di Sumenep, Sabtu (24/8). (LUQMAN HAKIM/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id - Seniman di Kabupaten Sumenep sangat variatif. Mereka berkumpul dalam kegiatan Maulid Sastra Kampoeng Jerami untuk Merawat Tradisi Sastra Pesantren.

Alunan musik yang dimainkan Encung Hariyadi Golden Boy dan Catra Bandhawa Damar Ate Sumenep menghibur peserta yang hadir gelaran Maulid Sastra Kampoeng Jerami.

Lagu-lagu yang dilantunkan Encung Hariyadi memantik gemuruh tepuk tangan peserta. Tawa riang peserta juga menghiasi jalannya acara.

Sebagai pembuka, Kiai Turmidzi Djaka menyampaikan prolog kebudayaan sekaligus menandai acara telah dimulai.

Peserta yang hadir tampak antusias mengikuti kegiatan yang digelar di Rumah Simpul Damar Ate Sumenep Jalan KH Mansyur, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (24/8) malam.

Setiap sudut dipenuhi para seniman dari berbagai generasi. Mereka duduk dengan khidmat mengikuti kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Kampoeng Jerami.

Mereka memperbincangkan bagaimana merawat tradisi sastra santri, khususnya yang ada di Kota Keris.

Kiai Muhammad Affan Adzim menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.

Dia menyampaikan, sastra pesantren jelas memiliki pembeda dengan sastra di luar pesantren.

Sastra pesantren adalah para santri sebagai aktor utamanya.

”Di dunia pesantren, sastra mengambil peran sebagai salah satu bentuk cara kerja kebudayaan kaum santri untuk mengekspresikan nilai dan pengetahuannya,” tuturnya.

Dewan pendiri masyarakat santri pesisiran itu menyatakan, modernisme dunia sastra memberikan dampak serius pada perkembangan sastra secara umum.

Menurutnya, sastra cenderung bergerak ke arah populer yang juga berdampak di dunia pesantren.

Hal itu dinilai menimbulkan masalah yang serius karena sastra tidak lagi mengacu pada nilai-nilai utamanya.

Akan tetapi, lebih pada dimensi yang sempit, personel, dan hanya disibukkan dengan permainan bahasa belaka.

”Sastra pesantren harus menemukan jati dirinya kembali dan dapat menampilkan identitas diri yang paling organik sebagai sastra yang berbeda dengan sastra arus utama pada saat ini,” ungkapnya.

Pembicara yang lain, Kiai Mohammad Shalahuddin menyatakan jika sastra adalah pengenalan kemanusiaan yang tidak akan pernah selesai sepanjang masa.

Mulai penciptaan Nabi Adam dan Siti Hawa sampai sekarang. Pengenalan sisi kemanusiaaan itulah kedalaman sastra.

Dia memaparkan, sastra pesantren formanya identik dengan syair, puisi, dan pesan-pesan puitik. Hal itu mengimajinasikan sesuatu yang perlu digali lebih dalam.

”Sebab, itu jadi pembeda dengan karya sastra model-model baru,” urainya.

Tokoh yang akrab disapa Ra Mamak itu menjelaskan, sastra islami yang muncul pada awal tahun 2000-an pendekatannya lebih naratif, bukan puitis.

Ciri-cirinya bukan berdasarkan pada kedalaman problematika realistis kemanusiaan yang dihadapi sehari-hari, melainkan glorifikasi dan heroisme naif.

”Karya-karya seperti itulah yang memenuhi pasaran pada saat itu. Tapi, masih lebih baik daripada sekarang yang tidak ada sedikit pun pasar sastra itu,” terangnya.

Munculnya sastra islami direfleksikan oleh pesantren sehingga muncul cerita-cerita tentang kehidupan santri.

Mereka sangat romantis memandang kehidupan di pesantren dan dikenalkan semua orang.

Ra Mamak menilai, saat ini sastrawan tidak lagi mempertanyakan wujud dan bentuk sastra santri.

Akan tetapi, mempertanyakan potensi kesusastraan di kalangan santri di masa yang akan datang.

”Apakah kelak yang akan lebih kuat dalam menjadi sumber kekaryaan mereka dari kitab klasik dengan kedalaman dan keandalannya, ataukah TikTok, Instagram, Reels dengan curahan produksi, dan temporarilitasnya,” paparnya.

Kegiatan diskusi sastra santri ditutup dengan lagu kesaksian oleh Encung Hariyadi yang membakar semangat peserta. Dengan kompak semua peserta mengikuti lantuan lagu penuh ekspresi itu. Encung menutup permainan musiknya dengan alunan salawat. (tif/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#sastra #kebudayaan #puisi #Problematika #pesantren #tradisi #syair