SUMENEP, RadarMadura.id – Kerja keras Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam menurunkan angka kemiskinan membuahkan hasil.
Terbukti, tahun ini angka kemiskinan berada di angka 17,78 persen.
Menurun 0,92 persen jika dibandingkan tahun lalu yang berada di angka 18,70 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep Joko Santoso membenarkan jika angka kemiskinan di Kota Keris mengalami penurunan.
Namun, pihaknya belum merilis data kemiskinan tersebut. Kemungkinan data itu rilis dari BPS pusat.
Meski begitu, hasil penilaian BPS Sumenep dimungkinkan tidak akan jauh berbeda dengan angka kemiskinan tersebut.
Joko menilai, angka kemiskinan di Sumenep bisa turun ke angka 17,78.
”Angkanya kemungkinan tidak akan berubah,” katanya.
Jika mengacu ke data tersebut, penurunan angka kemiskinan di Sumenep tertinggi kedua di Jatim.
Namun, untuk angka kemiskinannya tetap berada di urutan ketiga.
”Kalau penurunannya termasuk terbesar nomor dua di Jatim setelah Sampang,” tuturnya.
Joko memaparkan, dalam mengukur angka kemiskinan berdasarkan konsumsi masyarakat.
Jika diukur dari pendapatan masyarakat sulit karena terkadang sasaran tidak transparan terkait penghasilan.
”Jadi kita lihat dari pengeluaran dengan mengukur pemenuhan kebutuhan dasar. Misalnya sandang, pangan, papan, dan pendidikan. Kalau semuanya terpenuhi, tidak dianggap miskin lagi,” paparnya.
Joko mengungkapkan, angka 17,78 persen itu menunjukkan orang miskin di Sumenep sebanyak 196 ribu jiwa.
Penurunan dari tahun sebelumnya sekitar 10 ribu dari jumlah masyarakat miskin 206 ribu jiwa.
”Jadi kemiskinan di Sumenep terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun,” ungkapnya.
Terpisah, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bersyukur terjadi penurunan angka kemiskinan.
Namun, penurunan angka tersebut dinilai belum memuaskan.
Sebab, dia menargetkan penurunan angka kemiskinan mencapai 10 persen.
”Targetnya kan maksimal 10 persen penurunan kemiskinan di Sumenep. Ke depan, kami akan terus berupaya mengentaskan kemiskinan di Sumenep. Makanya, dalam hal ini peran serta masyarakat sangat dibutuhkan,” tukasnya. (iqb/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta