SUMENEP, RadarMadura.id – Ngobrol Penuh Inspirasi dan Khotmil Qur’an (Ngopi Milan) di Pendopo Agung Keraton Sumenep Minggu (7/1) berlangsung seru dan hangat.
Terutama saat sesi tanya jawab. Selain janda, ibu rumah tangga (IRT) juga aktif menyampaikan pertanyaan dalam rangkaian Calendar of Event Sumenep 2024 itu.
Ada yang bertanya cara menghadapi suami yang terkesan menyepelekan pekerjaan IRT. Ada juga yang bertanya tips bagi perempuan untuk bisa berkarier tanpa melepas tanggung jawab sebagai IRT.
Sedangkan stigma yang tertanam di masyarakat, pekerjaan perempuan sebatas di kasur, sumur, dan dapur.
Aktivis perempuan Nunung Fitriana sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut menyampaikan, perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki.
Bahkan, status sebagai IRT, janda, dan lain-lain tidak bisa menjadi batasan. Terutama dalam berkarier.
Semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, berhak mendapatkan akses pengetahuan yang layak.
Termasuk memiliki hak yang setara dalam memperoleh pemberdayaan maupun pengembangan diri seperti berkarier.
Bahkan, kata Nunung, perempuan yang berstatus sebagai kepala keluarga atau single parents, sangat rasional untuk mendapatkan hak akses dalam bidang ekonomi.
”Karena mereka bertanggung jawab atas keluarga mereka,” ungkapnya.
Namun, dia menilai, kultur patriarki terus disemaikan terhadap pengasuhan anak-anak dalam keluarga.
Terkadang, sikap terhadap perempuan cenderung diskriminatif dan tidak suportif. Dengan demikian, hal tersebut membuat posisi perempuan dipandang lebih rendah dari laki-laki.
”Banyak sekali stereotipe yang menimpa kaum perempuan. Terutama kepada single parents. Khususnya, saat mereka sering keluar rumah,” ungkapnya.
Banyak faktor yang mengakibatkan pandangan kurang baik terhadap single parents atau janda.
Salah satunya adalah penggiringan stereotipe alias penilaian subjektif terhadap janda melalui berbagai hal.
Tanpa disadari, hal demikian mampu mengalihkan pandangan masyarakat terhadap janda menjadi kurang baik.
Bahkan, saat ada laki-laki yang berencana menikahi janda, tak ayal mendapat cibiran. Sebab, hal tersebut terkesan penuh dengan stereotipe negatif.
Hanya, pandangan tersebut dinormalisasi menjadi guyonan yang seolah-olah wajar untuk disampaikan.
”Tidak hanya oleh laki laki, perempuan lain juga terdidik untuk melihat miring atau mewaspadai kehadiran janda,” ujar Nunung.
Pandangan negatif tersebut, kata Nunung, sangat penting untuk digeser ke arah yang benar.
Dengan demikian, tidak ada lagi penilaian kurang baik terhadap posisi perempuan. Terutama, kepada perempuan yang berstatus janda.
Salah satu langkah yang dianggap strategis yaitu melakukan pemberdayaan terhadap perempuan melalui organisasi.
Sekaligus, memberikan ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi dan dikomentari sehingga muncul empati satu sama lain.
”Empati ini sangat penting untuk menghadirkan solidaritas dan penghargaan yang setara pada perempuan. Tidak terkecuali berstatus apa saja,” tandasnya.
Lukman Hakim AG memandang janda sebagai perempuan yang sangat hebat. Mereka tidak sekadar berperan sebagai ibu untuk anak-anaknya. Melainkan, juga memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
”Dua tugas sekaligus yang harus dilakukan. Tentu itu tidak mudah. Tetapi, perempuan mampu mengatasi,” ujarnya.
Karena itu, tidak ada yang bisa direndahkan dari seorang perempuan. Bahkan, lelaki hebat sekalipun dilahirkan dan didik oleh perempuan.
Dengan demikian, seharusnya perempuan diberi penghargaan yang sangat mulia.
”Sejak pertama saya mengetahui bahwa ada komunitas janda, saya sangat mengapresiasi dan mendukung. Sebab, ini adalah gagasan yang luar biasa,” tegasnya. (bus/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana