Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

A. Busyro Karim Peduli terhadap Dunia Pendidikan

Abdul Basri • Rabu, 26 April 2023 | 08:28 WIB
TELATEN: Mantan Bupati Sumenep KH A. Busyro Karim (gamis putih) menyalurkan ilmu dalam kegiatan baca kitab bersama masyarakat di kediamannya, Kamis (14/4). (MOH. BUSRI/JPRM)
TELATEN: Mantan Bupati Sumenep KH A. Busyro Karim (gamis putih) menyalurkan ilmu dalam kegiatan baca kitab bersama masyarakat di kediamannya, Kamis (14/4). (MOH. BUSRI/JPRM)

SUMENEP - KH A. Busyro Karim sosok pemimpin yang peduli terhadap pendidikan. Selama menjabat bupati Sumenep periode 20102021, dia tetap konsisten mengajar. Juga membuat kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Aktivitas mengajar menjadi kegiatan rutinnya hingga sekarang.


Setelah purna dari jabatannya sebagai bupati Sumenep, Kiai Busyro lebih fokus mengajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Karimiyyah, Desa Beraji, Kecamatan Gapura, Sumenep. Lembaga pendidikan agama Islam tersebut merupakan lembaga asuhannya sendiri.


Selain mengajar santri di pondok, Kiai Busyro aktif mengisi kajian baca kitab bersama dosen yang mengajar di kampus naungan pondok. Yakni, Institut Kariman Wirayudha.”Kalau baca kitab bersama dosen, memang sudah dijadwalkan sebulan sekali,” tuturnya.


Kajian serupa juga dilaksanakan bersama guru di beberapa jenjang pendidikan yang ada di pondok. Mulai dari guru pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah madrasah aliyah (MA). Waktunya juga sebulan sekali, tetapi tidak berbarengan dengan kajian bersama dosen.


”Aktivitas saya sekarang memang lebih fokus pada dunia pendidikan. Setiap pagi saya mengisi pembacaan kitab di masjid,” katanya.


Pada saat masih menjabat bupati, Kiai Busyro tetap mengajar. Namun, menunggu waktu kosong biar tidak mengganggu jam dinas, yakni Minggu. Kiprahnya dalam bidang pendidikan tidak hanya terbatas di dalam pesantren. Kiai Busyro kerap diundang mengisi seminar dan ceramah di berbagai tempat.


Menurut Kiai Busyro, awalnya pesantren di Desa Beraji itu sangat kecil. Bahkan tidak ada santri yang mondok. Semua santri berstatus nyolok (pulang pergi). Bahkan, sekolah formal di bawah naungan pesantrennya hanya madrasah ibtidaiyah (MI).


Saat itu hanya ada tiga ruangan untuk enam kelas. Nama pesantren dan MI itu sama-sama bernama Darul Ulum. ”Setelah saya lulus sarjana, berbagai pembenahan dilakukan. Mulai dari sisi administrasi hingga manajemen,” katanya.


Tidak hanya itu, nama pesantren dan sekolah itu juga diganti menjadi Al-Karimiyyah. Nama itu diambil dari nama tokoh buyut pembabat alas Desa Beraji di masa lampau. Tokoh tersebut adalah Kariman Wirayudha, seorang putra keturunan Mulayana Wirayudha.


”Nama Al-Karimiyyah, saya sendiri yang memilih. Tepatnya, saat melakukan pembenahan manajemen pengelolaan sekolah,” jelasnya.


Sejak baru lulus kuliah, sudah banyak masyarakat yang mengusulkan pendirian madrasah tsanawiyah (MTs). Namun, saat itu Kiai Busyro belum berkenan. Sebab, waktu itu, kondisi MI Al-Karimiyyah masih sangat lemah. Dia fokus membenahi MI.


Sekitar tiga tahun kemudian, baru mulai memproses pendirian MTs. Seiring waktu, MI Al-Karimiyyah juga mulai dilakukan penambahan ruangan menjadi enam kelas. Hingga pada 1996, Kiai Busyro merintis pendirian Madrasah Al-Karimiyyah.


Untuk MA tersebut, baru memiliki SK pada 1999. Perjuangan mendirikan lembaga pendidikan terus dilakukan. Sampai pada akhirnya, berhasil mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Karimiyyah. Saat ini beralih nama menjadi Institut Kariman Wirayudha (Inkadha).


”Saya memang sudah dari dulu sangat cinta dunia pendidikan. Makanya, sampai sekarang saya tetap semangat untuk aktif dalam dunia pendidikan,” ucapnya. (bus/han)

Editor : Abdul Basri
#Bupati Sumenep Dua Periode #pkb #A. Busyro Karim #KH A. Busyro Karim