SUMENEP – Media massa tidak sekadar menyajikan informasi, hiburan, edukasi, dan menjadi kontrol sosial. Di balik itu, banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada media. Terutama untuk urusan ekonomi.
Dengan motor klasik, H. Mujiburrahman mendatangi kantor Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Sumenep kemarin (23/7). Menggunakan baju batik, perjalanan hidup pemilik Agen Syaiful Bahri ini cukup menginspirasi. Penjualan koran yang digeluti saat itu mampu mengantarnya melaksanakan ibadah haji.
Dimulai pada 1985. Saat itu usianya 22 tahun. Masih lajang. Indonesia masih dipimpin pemerintah Orde Baru. Lahir dari keluarga sederhana pada 4 April 1963, Ji Mujib –sapaan akrab H. Mujiburrahman– menjadi sosok yang penuh semangat dan tangguh. Masa mudanya dimanfaatkan untuk mengumpulkan pundi rupiah. Demi masa depan.
Saat itu, harga koran masih Rp 150. Koran Jawa Pos yang dijual awalnya 20 eksemplar. Dari penjualan tersebut, dia mendapat Rp 20 ribu per bulan. Pada tahun yang sama, satu porsi kaldu dan bakso jumbo masih seharga Rp 150. Emas juga masih di kisaran Rp 20 ribu per gram.
”Kalau dengan uang sekarang sekitar Rp 600 ribu. Kemudian, terus bertambah seiring semakin banyaknya koran yang bisa saya jual,” ucapnya.
Baru tiga tahun menjadi loper, dia kemudian mempersunting Hj Susmiyati pada 1988. Menikah dengan perempuan kelahiran 1971 itu membuatnya semakin semangat bekerja. Apalagi pada 1989, putra pertamanya Fahrurrozi lahir. Keinginan dan usaha untuk menafkahi keluarga semakin terdorong.
Tanggungan di pundaknya sebagai imam keluarga bertambah setelah Taufiqurrahman, anak keduanya, lahir pada 1991. Menggunakan sepeda untuk mengantarkan koran, pria 56 tahun itu kian giat menjalani profesinya sehari-hari.
Hingga pada 1992, dia bisa mendapat Rp 300 ribu per bulan. Melihat prospek kerja yang bagus, Jawa Pos kemudian memberikan peluang kepada Ji Mujib untuk menjadi agen. Usaha keagenannya saat itu diberi nama Syaiful Bahri.
Tahun pertama menjadi agen, harga koran masih sekitar Rp 300. Saat itu pelanggannya 200 orang. Kemudian, pada 1994 harganya naik menjadi Rp 400. Meski harga koran naik, pelanggannya terus meningkat hingga sekitar 400 orang.
”Ketika sudah menjadi agen, saya mempekerjakan loper. Kebanyakan loper saya juga menjadi agen saat ini,” tutur agen senior Jawa Pos Group di Madura itu.
Tahun 1997 dia kembali dianugerahi anak ketiga. Ahmad Aliyafi. Di tahun kelahiran putra bungsunya itu juga, Ji Mujib mulai menabung. Diniatkan untuk menunaikan rukun Islam kelima. Naik haji. Uang yang ditabung bukan dari penghasilan penjualan koran kepada pelanggan, melainkan dari hasil penjualan eceran.
”Kalau dari langganan, itu untuk kebutuhan hidup. Penghasilan dari penjualan eceran yang saya tabung,” ujar pria yang mendapat penghargaan dari Jawa Pos sebagai agen berprestasi dengan pelanggan terbanyak se-Madura 2005 itu.
Selain menjadi agen, dia melayani jasa pembayaran tagihan listrik, telepon, dan air dari warga sekitar. Upahnya Rp 250 dari setiap pengguna jasa. Sedikit demi sedikit pundi-pundi rupiah dikumpulkannya. Hingga pada Juli 2000, tabungan untuk menunaikan ibadah haji terkumpul Rp 36 juta. Agustus di tahun yang sama dia dapat arisan Rp 6 juta. Sehingga total uang untuk berangkat ke Tahan Suci terkumpul Rp 42 juta.
Pada saat itu, biaya haji masih Rp 21 juta per orang. Tabungan Rp 42 juta tersebut kemudian langsung digunakan mendaftar haji bersama istrinya. Hasil jerih payahnya menjadi agen koran ditambah pekerjaan sampingannya, Ji Mujib beserta istri berangkat ke Tanah Suci Makkah pada Maret 2001.
Tahun 2001, pendapatannya per bulan sekitar Rp 5 juta. Kemudian, dia membuka toko untuk penjualan koran dan majalah. Total pelanggannya saat itu 650 orang. Beda lagi dengan penjualan eceran. Sering kali dia bisa menjual koran hingga 1.000 eksemplar setiap hari.
Selain bisa menunaikan ibadah haji dari usahanya menjadi agen Jawa Pos Group, Ji Mujib juga berhasil menyekolahkan anak-anaknya, bahkan ke perguruan tinggi. Hingga H. Fahrurrozi, anak sulungnya, kini berhasil menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Madura.
Kinerja positif itulah yang mengantarkannya menjadi agen berprestasi. Masa-masa ratusan hingga ribuan koran bisa dijual. Loper-loper yang dipekerjakannya kemudian banyak yang ikut membuka keagenan. ”Jadi, saya bagikan pelanggan ke teman-teman yang jadi agen,” ujar Ji Mujib.
Menurut pria yang sudah 27 tahun menjadi agen itu, dengan penghasilan dari pekerjaan dan usahanya dahulu, sudah sangat mencukupi kebutuhan. Sebab, biaya hidup di tahun 90-an tidak terlalu mahal. Namun, saat ini, meski dengan pendapatan besar, biaya hidup juga tinggi. ”Tapi, tetap harus disyukuri,” ucapnya.
Setelah lama berbincang, Ji Mujib kemudian mengajak untuk datang ke rumahnya di Desa Kebonagung, Sumenep. Sampai di kediamannya, dia menunjukkan sepeda yang pernah menemani waktu masih menjadi loper. Tetap terawat sampai saat ini. Setiap pagi, dia kayuh sepeda tua itu untuk mengenang perjuangan masa lalu.
Di ulang tahun ke-20, dia mendoakan JPRM semakin jaya. Kemudian, jalinan silaturahmi antara manajemen JPRM dengan para agen dan loper semakin dipererat agar semakin semangat melaksanakan tugas.
”Terima kasih atas kesempatan bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Jawa Pos Group. Khususnya JPRM,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri