PAMEKASAN, RadarMadura.id – Wayang kulit berbahasa Madura jarang diketahui masyarakat.
Pasalnya, kegiatan seni budaya ini jarang dipentaskan di Pulau Garam.
Meski begitu, Panti Budaya Pamekasan tetap melestarikan kesenian wayang tersebut.
Ketua Panti Budaya Pamekasan Novem Alisahos Sudirman menyampaikan, wayang kulit di Madura belum dikenal banyak orang.
Sejak memimpin tahun 2004, pihaknya hanya mentas empat kali di wilayah Pamekasan.
”Dulu permainan wayang ini belum dikenal karena tidak diekspos. Pementasannya hanya di sini saja dan tidak pernah keluar,” katanya, Sabtu (8/2).
Sudirman atau Ki Sudirman merupakan satu-satunya dalang wayang kulit di Madura.
Novem merupakan generasi dalang keenam yang masih konsisten memainkan lakonnya.
Dirinya terus berusaha mengenalkan seni budaya tersebut ke masyarakat.
”Setelah saya jadi dalang, baru ikut pementasan festival di Jawa. Seperti di Jogja, Ngawi, dan lainnya,” ujarnya.
Dia menjelaskan, wayang kulit di Madura ada sejak abad ke-17 hingga 18 masehi.
Saat itu wayang dimiliki dan dilestarikan oleh keluarga Tionghoa yang tinggal di Pamekasan.
Pementasan ontowecono atau bahasanya masih campuran Madura dan Jawa.
”Saya berniat mewakili etnis di antara wayang yang lain. Maka, saya berusaha agar pertunjukan wayang ini berbahasa Madura asli,” terangnya.
Novem konsisten memerankan lakon sejak 2004. Menurutnya, butuh waktu agar bisa mementaskan wayang di masyarakat Pamekasan.
Pada 2006 dirinya pernah mentas di Bakorwil, 2007 di Pendopo Kabupaten Pamekasan dan pementasan yang lain.
Terakhir, dirinya mentas di Lapangan Sedangdang Pamekasan Sabtu (4/1).
”Itu pun yang menyelenggarakan bukan pemkab, melainkan komunitas seni. Saya mentas kalau ada orang ngundang,” tuturnya.
Pria berusia 56 tahun itu memaparkan, seni budaya wayang kulit yang mahal. Generasi yang punya minat untuk belajar seni ini minim.
Kalaupun ada, belum tentu bisa berperan menjadi dalang.
Sebab, harus mengerti gending, bisa vokal, menggerakkan wayang, punya pakem, dan ontowecono sesuai alur cerita.
”Jadi tidak mudah kalau tidak konsisten belajarnya,” paparnya.
Menurut Novem, melestarikan wayang kulit di Madura tidak semudah di daerah Jawa. Ada fasilitas pendidikan untuk regenerasi dalang. Sementara di Pamekasan belum ada.
”Tapi, kami akan terus melestarikan kesenian ini. Jika tidak dilestarikan, akan hilang,” pungkasnya. (ay/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta