Oleh MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN*
PADA 16 November 2024, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengumumkan penetapan bahasa Madura sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Keputusan ini merupakan tonggak penting dalam upaya pelestarian dan pengakuan terhadap kekayaan budaya lokal Indonesia, sekaligus memberikan apresiasi terhadap peran bahasa Madura sebagai bagian integral dari identitas budaya masyarakat Madura. Penetapan ini tidak hanya menegaskan eksistensi bahasa Madura sebagai alat komunikasi yang hidup, tetapi juga sebagai wadah yang menyimpan nilai-nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang telah berkembang sepanjang waktu.
Dengan pengakuan ini, bahasa Madura kini mendapatkan tempat yang lebih strategis dalam pelestarian budaya Indonesia, mendorong berbagai inisiatif untuk melindungi dan mengembangkannya di era globalisasi. Keputusan ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk lebih mengenal, mempelajari, dan bangga terhadap warisan budaya mereka. Sebagai warisan budaya tak benda, bahasa Madura tidak hanya dijaga dalam bentuk tradisi lisan, tetapi juga dipertahankan dalam berbagai ekspresi seni, sastra, dan kehidupan sosial masyarakat Madura. Bahasa Madura, sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia, merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa. Dengan jumlah penutur yang signifikan, terutama di Pulau Madura dan daerah sekitarnya, bahasa ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan identitas, nilai-nilai, dan tradisi masyarakat Madura.
Baca Juga: Seni Rupa Pelajar Waktu Indonesia Bagian Barat
Bahasa Madura, sebagai salah satu bahasa daerah yang hidup di tengah pluralitas budaya Indonesia, memiliki peran strategis dalam merepresentasikan keunikan dan kekayaan budaya bangsa. Dengan jumlah penutur yang tersebar luas, terutama di Pulau Madura dan beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Situbondo, Bondowoso, dan Pasuruan, bahasa ini lebih dari sekadar alat komunikasi. Bahasa Madura menjadi medium utama yang menghubungkan generasi, mengabadikan tradisi, serta menyampaikan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari leluhur kepada penerusnya.
Melalui bahasa Madura, berbagai ekspresi budaya seperti sastra lisan, seni pertunjukan, dan adat istiadat mendapatkan tempatnya. Ia menjadi saksi hidup dari identitas dan karakter masyarakat Madura, yang dikenal dengan nilai-nilai seperti keberanian, kerja keras, dan solidaritas komunitas. Dalam setiap kata dan ungkapan yang terucap, terkandung filosofi hidup yang menggambarkan kearifan lokal serta warisan tradisional yang tak ternilai harganya.
Sebagai warisan budaya tak benda, bahasa Madura memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi lisan seperti pantun, dongeng, parikan, dan pepatah. Karya sastra Madura modern maupun tradisional menggunakan bahasa ini sebagai medium utama, menunjukkan peran sentralnya dalam membentuk warna lokal dan identitas budaya. Misalnya, penggunaan bahasa Madura dalam sastra kontemporer tidak hanya memperkaya khazanah sastra nasional, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan kearifan lokal dan ekspresi masyarakatnya di tengah arus globalisasi.
Sebagai warisan budaya tak benda, bahasa Madura memegang peranan vital dalam merawat tradisi lisan yang kaya seperti pantun, dongeng, parikan, dan pepatah yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Madura. Tradisi lisan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan penyampaian nilai-nilai moral serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Puisi Ifa Lira Safrina: Saksi Bumi
Di dunia sastra, bahasa Madura memainkan peran strategis sebagai medium utama dalam karya sastra tradisional maupun modern. Kehadirannya dalam sastra modern memberikan ruang untuk interpretasi baru terhadap identitas lokal, sekaligus menunjukkan adaptasi bahasa ini di tengah dinamika globalisasi. Dengan menggunakan bahasa Madura, karya-karya sastra kontemporer tidak hanya memperkaya khazanah sastra nasional, tetapi juga menjadi wadah pelestarian nilai-nilai lokal yang unik, memastikan bahwa identitas budaya Madura tetap hidup dan relevan.
Bahasa Madura juga menjadi penanda otentik yang memperkuat warna lokal dalam berbagai bentuk ekspresi budaya. Dalam proses ini, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga simbol perlawanan terhadap homogenisasi budaya yang kerap datang bersamaan dengan arus globalisasi. Dengan demikian, keberadaan bahasa Madura menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu bertahan sekaligus berkembang dalam tatanan budaya yang terus berubah.
Namun, tantangan pelestarian bahasa Madura cukup kompleks. Modernisasi, migrasi, dan penggunaan bahasa nasional atau asing dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan bahasa Madura mulai terpinggirkan, terutama di kalangan generasi muda. Pengakuan bahasa Madura sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah menjadi langkah strategis untuk memberikan legitimasi terhadap upaya pelestarian bahasa ini.
Namun, pelestarian bahasa Madura menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Modernisasi yang melahirkan gaya hidup serbainstan, migrasi yang mengubah pola komunikasi lintas daerah, serta dominasi penggunaan bahasa nasional atau asing dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, telah menyebabkan peran bahasa Madura semakin tergerus. Kondisi ini terutama terlihat di kalangan generasi muda, yang cenderung lebih akrab dengan bahasa Indonesia atau bahasa global dalam keseharian mereka dibandingkan dengan bahasa daerah.
Baca Juga: Madura: Tradisi vs Modernisasi
Pengakuan bahasa Madura sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah merupakan langkah penting dan strategis untuk menegaskan nilai historis, sosial, dan budaya bahasa ini. Dengan pengakuan tersebut, bahasa Madura mendapatkan legitimasi sebagai bagian integral dari identitas budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Langkah ini juga menjadi dasar bagi berbagai inisiatif pelestarian seperti pengembangan kurikulum berbasis bahasa daerah, pemberdayaan komunitas budaya lokal, dan penyelenggaraan festival seni dan sastra Madura.
Pengakuan bahasa Madura sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah menjadi tonggak penting dalam mempertegas posisinya sebagai salah satu elemen esensial dari identitas budaya Indonesia. Melalui pengakuan ini, nilai historis, sosial, dan budaya yang terkandung dalam bahasa Madura mendapatkan legitimasi formal yang menggarisbawahi urgensi pelestariannya.
Langkah strategis ini membuka jalan bagi berbagai upaya pelestarian yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Salah satunya adalah pengembangan kurikulum berbasis muatan lokal di sekolah-sekolah, yang tidak hanya mengajarkan bahasa Madura, tetapi juga menanamkan kebanggaan akan warisan budaya di kalangan generasi muda. Di sisi lain, pemberdayaan komunitas budaya lokal dapat menjadi motor penggerak pelestarian, misalnya melalui revitalisasi tradisi lisan, lokakarya seni, dan pendokumentasian kekayaan bahasa.
Selain itu, penyelenggaraan festival seni dan sastra Madura menjadi platform penting untuk mempromosikan bahasa Madura kepada audiens yang lebih luas. Melalui festival ini, masyarakat tidak hanya menikmati karya seni berbasis bahasa daerah, tetapi juga menyadari pentingnya peran bahasa Madura sebagai media pelestarian tradisi dan ekspresi budaya yang dinamis. Dengan berbagai inisiatif tersebut, pengakuan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga titik awal bagi kebangkitan kembali bahasa Madura di tengah arus perubahan zaman.
Baca Juga: Guru yang Kehilangan Dirinya
Selain itu, pengakuan ini membuka peluang untuk menjadikan bahasa Madura sebagai subjek kajian akademik yang lebih luas, termasuk dalam bidang linguistik, sastra, dan antropologi. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, bahasa Madura tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkembang menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi masyarakat Madura, sekaligus bagian dari mozaik kekayaan budaya Indonesia yang majemuk.
Pengakuan tersebut dapat mendorong penguatan program pendidikan muatan lokal, pengembangan teknologi berbasis bahasa daerah, hingga pengarsipan digital bahasa Madura. Selain itu, pemberdayaan komunitas budaya lokal untuk menghidupkan kembali tradisi lisan dan menulis dalam bahasa Madura juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian ini.
Pengakuan bahasa Madura sebagai warisan budaya tak benda tidak hanya menjadi langkah simbolis, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat berbagai upaya konkret dalam pelestarian dan pengembangannya. Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah penguatan program pendidikan muatan lokal, di mana bahasa Madura diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pembentukan identitas dan kebanggaan budaya generasi muda.
Selain itu, pengembangan teknologi berbasis bahasa daerah, seperti aplikasi pembelajaran, kamus digital, hingga alat terjemahan berbasis bahasa Madura, dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap bahasa ini. Teknologi ini tidak hanya mempermudah aksesibilitas, tetapi juga memperkuat posisi bahasa Madura di era digital.
Baca Juga: Doa Sebutir Debu dalam Kitab yang Usang
Langkah penting lainnya adalah pengarsipan digital bahasa Madura, termasuk dokumen, naskah kuno, cerita rakyat, dan tradisi lisan. Arsip ini berfungsi sebagai sumber referensi yang berharga bagi penelitian akademik sekaligus memastikan warisan budaya ini tetap terjaga meski menghadapi ancaman kepunahan. (*)
*)Dosen Sastra pada Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura
Editor : Ina Herdiyana