Oleh SITI AINA FATUS SUNNA
SAYA teringat percakapan dengan paman saya sewaktu masih duduk di bangku MA sekitar 3 tahun yang lalu. Kebetulan kami sekelas, karena memang usia kami tidak jauh beda. Paman saya ini termasuk remaja perokok aktif. Bahkan, walaupun masih muda, dia sudah bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, termasuk untuk membeli rokok. Waktu itu saya bertanya, ”Paman, masih muda kok sudah ngerokok sih, kan nggak baik untuk kesehatan. Lagian, lebih hemat juga.” Paman saya hanya tersenyum dan menjawab dengan santai menggunakan bahasa Madura, ”Ta’ aroko’, ta’ lalake’,” yang dalam bahasa Indonesia artinya ”Kalau tidak merokok, dianggap bukan laki-laki/tidak jantan”.
Bahasa ”ta’ lalake’” memang sangat sensitif dan dianggap aib bagi kebanyakan laki-laki, khususnya di Madura. Alhasil, rokok seolah sudah menjadi hal yang wajib melekat pada kaum laki-laki. Fenomena seperti ini terus berlanjut, bukan hanya pada remaja seusia paman saya, tapi sudah merambat ke anak-anak level SD.
Kejadian atau peristiwa semacam ini menjadi bukti kuat betapa bahasa sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan tindakan seseorang. Istilah ”Ta’ aroko’, ta’ lalake’” adalah bahasa yang diciptakan manusia yang kemudian mengikat mereka dalam wujud budaya. Tetapi, apakah benar bahasa yang memengaruhi budaya atau justru budaya yang memengaruhi bahasa? Ini merupakan sesuatu yang tempak remeh, tetapi cukup membingungkan.
Saya rasa, misteri bahasa dan budaya ini perlu pembahasan lebih mendalam. Ketika dikaitkan dengan pemahaman Abdul Chaer, dalam Linguistik Umum, ada hipotesis yang dicetuskan oleh dua pakar bahasa, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, yang kemudian dikenal dengan istilah hipotesis Sapir-Whorf. Argumentasi yang berkembang bahwa bahasalah yang memengaruhi kebudayaan. Hal ini mungkin akan korelatif dengan fenomena yang berkembang di negara kita.
Sering kita mendengar istilah ”jam karet”. Hal inilah yang dalam terminologi Sapir-Whorf, cikal bakal munculnya budaya ”terlambat” di negara ini. Di negara-negara maju seperti di Eropa, tidak ada istilah tersebut, sehingga masyarakatnya lebih menghargai waktu. Tetapi, justru pendapat ini banyak ditentang oleh pemikir-pemikir yang lain. Mereka lebih cenderung berasumsi bahwa budaya yang memengaruhi bahasa. Sebagai salah satu contohnya, mereka mengambil dari bahasa Inggris yang tidak memiliki kosakata secara spesifik. Semisal nasi, beras, padi, atau gabah yang memiliki satu kata sama, yaitu rice untuk menyebut keempat istilah yang senyatanya berbeda dalam bahasa Indonesia. Mengapa seperti itu? Karena orang-orang Inggris tidak memiliki kebudayaan makan nasi sebagai makanan pokoknya. Sedangkan di Indonesia, nasi adalah salah satu makanan pokok masyarakatnya. Bahkan di Madura, tidak dianggap sarapan jika belum makan nasi walaupun sudah menghabiskan beberapa gorengan dan semangkok bakso.
Kedua pendapat di atas menurut hemat saya sama-sama kuat. Apalagi di zaman modern ini, budaya media sosial juga banyak memengaruhi bahasa penggunanya. Bukankah bahasa-bahasa media sosial sudah sangat lumrah di kalangan anak muda zaman sekarang?
Saya sering mendengar ungkapan teman-teman di sekitar saya, seperti kata ”anjir”, ”anjay”, atau ”anjrit”. Bahkan, kebiasaan menunjukkan jari tengah sudah lazim kita lihat dilakukan oleh anak-anak seusia TK. Padahal, mereka belum tentu tahu apa arti di balik bahasa isyarat tersebut. Tren bahasa seperti inilah yang mereka dapatkan dari kebiasaan scrolling TikTok berjam-jam tanpa pengawasan orang tua.
Dengan demikian, saya mendapatkan sebuah simpulan bahwa bahasa dan budaya memang saling memengaruhi satu sama lain. Sepertinya tidak dapat dipisahkan antara bahasa dari budaya, pun budaya dari bahasa. Istilah ”Ta’ aroko’, ta’ lalake’” adalah tanda bahwa bahasa sangat berpengaruh terhadap budaya, karena dapat membentuk polarisasi pikiran dan kebiasaan penggunanya. Pun, budaya juga berpengaruh terhadap bahasa sebagaimana contoh dan penjelasan di atas. Gambaran-gambaran seperti ini menjadi pelajaran penting bahwa menjaga bahasa berarti juga menjaga budaya–karena budaya lahir dari rahim bahasa dan bahasa bagian dari identitas kebudayaan. Salam! (*)
*)Mahasiswa Prodi PBSI, STKIP PGRI Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News