Oleh LUKMAN HAKIM AG.
PELUNCURAN buku tanpa buku. Itulah yang terjadi pada kegiatan bertajuk Peluncuran Buku Cerita Anak Dwibahasa Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) 2023. Penulis dan ilustrator ratusan buku hanya mendapatkan piagam penghargaan dan honor atas tugas mereka. Demikian pula dengan penyeleksi dan penelaah. Mereka juga tidak mendapatkan buku dalam kegiatan di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Selasa (12/12).
Dinamika muncul menjelang hari peluncuran. Namun, semua itu sudah dijawab oleh panitia. ”Sama, Pak, ternyata bukunya belum jadi. Tadi saya tanya ke panitia, katanya, bukunya dikirim. Tapi, gak tahu kapan. Semoga segera dikirim, ya, Pak,” kata seorang ilustrator setelah tahu saya mengira hari itu buku yang diluncurkan sudah ada.
Kegiatan itu merupakan rangkaian program Seleksi Buku Cerita Anak Dwibahasa 2023. BBJT berhasil menjaring dan menerbitkan 110 judul buku dwibahasa dari 85 penulis. Perinciannya, 79 judul bahasa Jawa, 22 judul buku berbahasa Madura, dan 9 buku bahasa Using.
Puluhan buku berbahasa Madura itu ditulis tidak hanya oleh penulis dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Penulis dari ”Madura negeri” hanya 12 orang. Beberapa buku bahasa Madura juga ditulis oleh penulis dari ”Madura swasta”. Beberapa penulis menulis lebih dari satu judul buku. Seperti M. Ridwan yang tiga karyanya lolos seleksi.
Sebelum diluncurkan, ratusan buku itu melalui banyak tahapan. Seperti pengumuman seleksi naskah. Kemudian dilanjutkan dengan lokakarya dan penelaahan. Penelaahan meliputi aspek kebahasaan dan konten Selasa–Jumat (23–26/5). Sebab, buku anak ini harus menyesuaikan dengan penjenjangan.
Selain penulis dan ilustrator, peluncuran buku itu dihadiri Konsul Jenderal Australia Surabaya Fiona Hoggart, perwakilan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, dan lain-lain. Sementara Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Iwa Lukmana tersambung sacara daring. Juga ada pertunjukan hasil alih wahana dari cerita Jarak Kenca’, salah satu buku yang diluncurkan hari itu.
Kepala BBJT Umi Kulsum menjelaskan, penerbitan buku dwibahasa ini untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan bermutu. Terutama bahan bacaan anak-anak. Namun, pihaknya punya keterbatasan anggaran dalam pencetakan untuk digandakan sebanyak mungkin. Karena itu, dibutuhkan kerja sama stakeholder.
”Mohon bantuan dinas perpustakaan untuk memperbanyak,” katanya dalam sambutannya. Umi berharap, anak-anak semakin banyak membaca. ”Terima kasih kepada penulis, ilustrator, penelaah, dan penerbit,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Umi membocorkan program yang sama tahun depan. Katanya, tugas BBJT tidak mudah. Target buku yang harus dihasilkan lebih banyak. Jika tahun ini ”hanya” 110 judul, tahun depan lebih dari itu.
Atas nama Badan Bahasa, Iwa Lukmana mengapresiasi ke BBJT menerbitkan buku cerita dwibahasa. Buku dwibahasa ini merupakan buku anak yang menarik di mata anak. Bukan menarik di mata orang dewasa.
Dia menjelaskan, literasi bahasa daerah beririsan dengan pelestarian bahasa daerah. Karena itu, diselenggarakan program yang aslinya bernama penerjemahan dari buku bahasa daerah ke bahasa Indonesia ini digelar. Namun, jumlah buku bahasa daerah tidak banyak. Karena itu, balai dan kantor bahasa putar otak. Badan bahasa menyelenggarakan sayembara, bimbingan teknis (bimtek), dan seleksi. Iwa juga berharap kegiatan ini berguna untuk pemahaman dalam konteks kebinekaan Nusantara dan global.
Tabrani Selalu Tersebut
Pada kesempatan yang sama, Umi Kulsum mengungkapkan rasa syukur atas penganugerahan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional. Si Anak Nakal Banyak Akal itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada Hari Pahlawan Nasional 2023 oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Menurut Umi, tugas belum berakhir. Sosialisasi tentang sosok penggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan harus makin masif. Butuh keterlibatan banyak pihak untuk menyosialisasikan ini. Apalagi, atas dukungan semua pihak, bahasa Indonesia mendapat pengakuan sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO.
Hura Hus Hus Adrian Pawitra
Nama Adrian Pawitra disebut untuk menerima piagam penghargaan sebagai penelaah. Sebab, penulis kamus Madura itu telah mendahului kita sebelum peluncuran ini digelar. Adrian turut berperan aktif dalam proses penerbitan buku cerita anak dwibahasa ini.
Dia membaca karya para penulis buku cerita berbahasa Madura. Dia juga memberi catatan dan masukan untuk perbaikan 22 buku itu. Telaah dilakukan secara daring dan tatap muka langsung. Saya ingat betul ketika dia membahas ”hura hura”, suara orang mengusir ayam dalam buku cerita saya yang menurutnya lebih tepat menggunakan ”hus hus”.
Sementara pertemuan langsung kami saat lokakarya di Hotel Fave Sidoarjo. Di luar forum lokakarya, kami juga sempat bincang santai. Termasuk pengalamannya bertugas di berbagai penjuru Indonesia yang menyebut orang Madura ada di mana-mana. Senyum khas Adrian masih teringat jelas dan manis.
Banyak hal yang disampaikan Adrian kepada para penulis terkait bahasa Madura. Kita turut berdukacita atas meninggalnya tokoh penting bahasa Madura ini. Suasana ruangan peluncuran buku sejenak hening ketika pewara mengajak hadirin berdoa untuknya.
***
Terlepas dari dinamika yang mewarnai tahapan penerbitan buku cerita anak dwibahasa ini, program ini patut dilanjutkan. Sebab, sangat sedikit buku bacaan berbahasa daerah. Apalagi, buku dwibahasa. Buku bahasa Madura, misalnya, yang hingga saat ini sangat sedikit. Saya mengapresiasi sekaligus mendukung program penerbitan buku bahasa daerah makin disuburkan. Semoga distribusi ratusan buku ini berjalan lancar dan tepat sasaran.
Dengan menggairahkan penerbitan ini, saya berharap tidak ada lagi kesalahan penulisan bahasa Madura di ruang publik. Kita tahu banyak gambar ”orang penting” di pinggir jalan menyampaikan pesan dengan bahasa Madura. Namun sayang, tulisan mereka kacau. (*)
*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News