Petuah Terakhir Kakek
Hari Rabu tahun kapital bulan sabit
Di mana kuasa memanggilnya dalam hitungan detik
Dengan surat penghantar kematian
Lewat Jibril lalu dialihkan tugas pada Azrofil,
Mata tak lagi suntuk menerka
Petuah yang dulu sering kudengar
Sekarang hanya lantunan zikir
Mengiringi kepergianmu yang abadi.
Kek…
Tak kuasa mengeja tangis
Ranah air mata terus bercucuran
Kemarin sore itu
Kau masih sempat memberi wejangan
Tapi sekarang menyisakan kehancuran.
Mulut tidak lagi bisa bersuara
Hanya aminan zikir
Terus terlantun khidmat
Pada setiap
Jalan hidupku.
Reguler, 2023
………………………………………..
Kepada Neng
:INFI
Selembar surat di altar Penginapan
Pernah menulis kisah
Tentang aku dan kau,
Wajahmu yang seelok awan di pagi hari
Matamu selentik lautan purnama
Dan sepasang sutra melilit
Ciptaan Tuhan, sungguh begitu syahdu.
Masih kusimpan rapi semua itu
Dalam almari yang kusam oleh waktu.
Jangan gamang, Neng
Cukup kau yang memiliki semuanya
Desir angin di musim kemarau
Menjadi saksi atas semuanya.
Rupa tujuh warna itulah kau
Membentang di permukiman rindu
Bertandang pada relung keabadian waktu.
Neng…
Kutitipkan segara cinta padamu
Rawatlah sebagaimana tanaman
Yang tumbuh subur di pekarangan rumahmu
siramlah dengan ketulusanmu yang abadi
Hingga kelak kita bersama,
Selamanya.
Reguler, 2023
………………………………………..
Selimut Kepastian
Barangkali kulupa tidur
Karena mata tak ingin terpejam
Dan suara hati seperti terbentur di lembah sunyi
Di kedalaman doa yang makin terkubur bersama mimpi.
Tak terasa kenangan
Telah tertinggal jauh di kelebatan hutan
Ia seperti menjerit meminta pertanggungjawaban
Di gelapnya perjalanan yang telah terhapuskan.
Sempat kulupa jalan pulang
Lantaran selimut kepastian membuat bimbang
Dan perjalanan masih panjang
Yang harus kutempuh dengan candaan
Di sela-sela tangis memandang masa depan.
Seperti jam usang itu,
Ia memutar waktu
Menjaga perjalanan spiritual
Dan detiknya merupakan kehidupan
Bagi seorang musafir
Yang mengembara mencari arah pulang.
Lubtara, 2022
………………………………………..
Catatan Yang Hilang
Tak sempat kurapikan lemari yang usang itu
Kuacak kembali tapi tak kunjung ada
Hanya pakaian nostalgia yang tersusun rapi
Dan tumpukan buku harian yang terpajang dengan tenang.
Catatan yang kemarin malam dikenang
Sekarang hilang tanpa membuat kepastian
Karangan sakral yang tersusun rapi
Di buku catatan itu
Kini hanya menyisakan lembaran yang tak terbentuk.
”Benarkah ia pergi dengan seribu tanda tanya,
Seakan ia tertelan di perut bumi
Pergi dengan sejuta kisah yang terpaut di dalamnya,”
Malam semakin larut
Namun buah pencarian tak menemukan hasil
Kucoba bersemedi dalam karung imajinasi
Akan tetapi karangan itu terkunci rapi
dalam catatan yang telantar itu.
Lubtara, 2022
………………………………………..
Setangkai Bunga Mawar di Stasiun 1
Seakan tubuh koyak dalam angan
Duduk bersimpuh dengan bisu
Pandangan surut memahat waktu
Mencari tatapan mata yang sendu
Di antara lalu-lalang orang-orang bertandang.
Di stasiun kereta itu
Kugenggam erat setangkai bunga mawar
Sebagai hadiah rindu
Yang rindu di ufuk kalbu.
Hingga aku terlupa waktunya pulang
Namun kehadiranmu tak kunjung reda,
Di sini telah kutuang segelas candu
Mengamati sekitar dengan iba
Rasa khawatir terus menikam
Hingga ramai berganti kesunyian.
Lubtara, 2023
………………………………………..
*)Kelahiran Lebbek, Pakong, Pamekasan.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti