RadarMadura.id – Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kalimat musikalisasi puisi? Musik dipuisikan, musik diisi pembacaan puisi, puisi diiringi musik, atau puisi dimusikkan? PR besar bagi pelaku, pemerhati, dan pengapresiasi genre seni (sastra maupun musik) dan disiplin ilmu lain untuk menjabarkan lebih detail pemaknaannya.
Musikalisasi puisi adalah pengulangan bentuk genre seni dengan wajah baru. Baru karena dipelopori beberapa orang atau kelompok sebagai gaya ekspresi sebuah puisi yang dilagukan: ada proses cipta, rasa, dan karsa. Bukan sekadar nada. Lalu ada.
Di beberapa wilayah Nusantara, sastra (puisi) beberapa abad lalu begitu banyak dilagukan, ditembangkan, seiring perjalanan waktu sastra oral ini memiliki karakteristik sendiri (pakem) dengan langgam tertentu. Di Jawa ada mocopat/mocoan, hamulak di NTT dan Timor Leste, mamaca dan kamisan di Madura, tentu masih banyak yang belum terjangkau oleh publik dan menjadi bagian sebab punahnya tradisi seni ini di tengah pertarungan chaos modernisasi.
Sastra (puisi) mempunyai ruang dan tempat sebagai wajah kebudayaan: cermin suatu keadaan pada masanya. Tidak terhenti pada lisan maupun tulisan, ia juga memberi peluang sebagai bentuk ekspresi: dibacakan, dirupakan, hingga dimusikkan seperti yang dilakukan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.
Sabtu, 23 September 2023, komunitas ini menawarkan beberapa alternatif aliran musik dengan ragam latar belakang: ada ansambel kolintang oleh Teater SMAN 3 Bangkalan, genre klasik oleh Grup String Bangkalan, genre pop balada oleh Paguyuban Seni Kopi Lembah Arosbaya, genre blues oleh Band Musik Gen Oz, genre reggae oleh Band Slayer Rasta, genre dangdut oleh Sanggar Tarara, serta genre rock oleh Band Hexaz. Acara ini dikemas dalam tema Ghun-tèngghun.
Ghun-tèngghun diambil dari bahasa Madura yang berarti tontonan. Kemasan judul ini tidak ada sangkut paut dengan kemaduraan, hanya sebagai tema belaka. Karena tak satu pun dari pertunjukan ini memunculkan performa lokalitas tradisi. Apa yang menjadi daya tawar dari konsep acara ini?
Musik kolintang, klasik, pop balada, blues, reggae, dangdut, dan rock, gagasan ini dimunculkan oleh M. Helmi Prasetya (ketua Komunitas Masyarakat Lumpur) sebagai passion untuk menafsir puisi tidak hanya dengan interpretasi lembut, sunyi, melankolis, tapi puisi juga bisa diteriakkan, digaungkan, jingkrak-jingkrak, goyang, dan hentakan menembus berbagai elemen di dalamnya.
Ghun-tèngghun: Konser Musikalisasi Puisi Multigenre 7 Penyair Nasional ini kali pertama dilakukan di Madura, mungkin di Indonesia. Jika membaca sebuah teks sastra perlu pemahaman dalam mencerna isi, pada momen ini penonton dihadapkan bukan pada teks tapi pada ragam instrumen musik, tentu pandangan kolektif membangun asumsi di mana letak perbedaan antara puisi dan lirik lagu.
Konser ini dibuka oleh penampilan Sanggar Teater Mutiara dengan membawakan puisi berjudul ”Dengan Puisi, Aku…” karya Taufiq Ismail. Sajiannya cukup mengalir memperhitungkan nada-nada kolintang sehingga letak bunyi alat musik, suara vokal, dan puisi yang dibaca silih berganti mengisi ruang-ruang dan tertangkap jelas tanpa ada kekosongan sebagai performa pertama.
Dilanjut penampilan kedua oleh Group String Bangkalan. Puisi ”Pertemuan” karya Goenawan Muhamad seperti menuruni lembah dalam setiap karyanya; curam, mistisme. Mengawini sunyi pada sajak ini dengan nada genre klasik barangkali masih tersampaikan ke khalayak penonton, meski kelonggaran ditemukan di dalamnya.
”Ibu” karya D. Zawawi Imron masuk nomor urut tiga dalam tampilan konser ini. Semula musikalisasi puisi ini hasil aransemen Anwar Sadat. Diaransemen ulang oleh Paguyuban Seni Kopi Lembah Arosbaya. Unsur musik pop balada menjadi kompleks. Di awal, musik dan suara vokal mengalami dismusikalisasi, dimungkinkan karena teknis, pada pertengahan pertunjukan menjadi utuh. Mengajak penonton bernostalgia pada sosok bernama ibu.
Setelah pop balada, di panggung keempat penonton digiring untuk masuk pada suasana hampir senada. Band Musik Gen Oz meraba-raba lewat genre bluesnya. Jika pernah baca puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar ini tentu akan lebih khidmat menyelami setiap kesendirian yang muram. Puisi-puisi Chairil sudah penuh musikalitas. Dan, tuntas memerdekakan diri dalam perjalanan hidup. Chairil apakah perlu musik pada puisinya?
Keempat pertunjukan di depan lebih slow di mata dan telinga. Masuk pada tampilan ke lima, mustahil penonton tidak menggeleng kepala. Selesai performance, teriakan di belakang menjadi-jadi, bahkan meminta untuk diulang kembali. Dalam keadaan jiwa yang payah WS. Rendra menulis sajak ”Kupanggil Namamu”. Sajak ini ditransformasi ke dalam alunan reggae oleh Slayer Rasta. Produk estetika musik ini mengingkari kekuatan spiritual atau tidak? Namun, jalan sastra (puisi) di sini lewat dengan berbagai cara, dari mana saja sebagai bentuk tafsir dengan berbagai kemungkinan. Apa pun itu.
Puisi ”Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono ini tak asing oleh lintas generasi. Bisa dijumpai di berbagai media. Baik bentuk teks, lagu, untaian kata-kata dan sebagainya. Puisi ini cukup hits. Bahkan, menjadi candu oleh kaum perayu. Sanggar Tarara telah mencuri mata penonton. Bagaiman jadinya jika puisi diaransemen dangdut? Panggung keenam usai, penonton riuh.
Di penutup konser, hentakan dan gaung nada-nada kian memekak telinga. Rock di tangan Band Hexaz tidak disia-siakan. Gedung Ratoh Ebuh; tempat acara menjadi kesatuan organik, respons-respons estetik terisolasi oleh situasi konsep kebaruan yang belum pernah ada sebelumnya. ”Jembatan” karya Sutardji Calzoum Bachri menjadi puisi pemungkas suksesnya acara, terlepas dari apakah ke-7 performa musikalisasi puisi multigenre 7 penyair nasional di atas mewakili atau tidak?
Apakah ini merupakan terobosan baru atau musikalisasi puisi selama ini memang belum memiliki karakter sebagai genre seni yang mapan, belum memiliki penikmat dan sedang mencari-cari bentuk karakter sebenarnya? Wallahu-a’lam. (*)
Bangkalan, 30 September 2023
MUHLIS AL-FIRMANY
Pendiri Madura Locus Art and Culture
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti