Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dua Kecamatan di Kabupaten Sampang Mulai Krisis Air Bersih, Warga Kesulitan Penuhi Kebutuhan Sehari-hari

Amin Basiri • Jumat, 3 Juli 2026 | 11:30 WIB
KEKERINGAN: Warga saat mengecek sumur di Dusun Rakmerrakan, Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, Kamis (2/7).
KEKERINGAN: Warga saat mengecek sumur di Dusun Rakmerrakan, Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, Kamis (2/7).

SAMPANG, RadarMadura.id – Memasuki musim kemarau, warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sampang mulai mengeluhkan keterbatasan air bersih.

 Sedikitnya dua kecamatan dilaporkan mulai mengalami krisis air, yakni Kecamatan Banyuates dan Karang Penang.

 Bahkan, sejak sebulan lalu sudah ada yang membeli air untuk memenuhi kebutuhan setiap hari.

Salah seorang warga Dusun Laccaran, Desa Karang Penang Oloh, Kecamatan Karang Penang, Lila mengatakan, sejak awal Juni ketersediaan air bersih di desanya mulai berkurang.

Akibatnya, warga terpaksa membeli air bersih menggunakan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

”Harganya Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per tangki. Kalau di rumah saya, satu tangki cukup sekitar 20 hari,” katanya Rabu (1/7).

Menurut dia, persoalan kekurangan air selalu terjadi setiap musim kemarau. Kondisi itu dipicu minimnya sumber mata air di sekitar permukiman.

Selain itu, sumur yang selama ini menjadi andalan warga juga mengering ketika kemarau berkepanjangan.

 ”Kalau sudah sekitar dua bulan tidak turun hujan, ya harus beli air,” ujarnya.

Dia menambahkan, pendataan warga terdampak sempat dilakukan oleh pemerintah desa.

Namun, bantuan air bersih yang disalurkan belum menjangkau seluruh masyarakat.

”Biasanya bantuan ditempatkan di sekolah atau masjid. Di sekitar rumah kami belum ada,” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan Penjabat (Pj) Kepala Desa Larlar, Kecamatan Banyuates, Suharto.

Menurut dia, desanya sudah mengalami krisis air selama sekitar satu bulan.

Sebagian warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun ternak.

”Kami juga sempat menyampaikan persoalan ini kepada Bapak Presiden saat kunjungan Rabu (1/7), karena desa kami hampir setiap tahun mengalami kekeringan,” katanya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sampang Mohammad Hozin mengatakan, penyaluran bantuan air bersih belum dapat dilakukan.

Saat ini pihaknya masih menunggu petunjuk pimpinan, sementara surat keputusan (SK) penetapan status kekeringan masih dalam proses.

”Kemungkinan dropping air dilakukan saat puncak musim kemarau pada Agustus. Anggaran kami hanya Rp 75 juta, sehingga hanya cukup untuk sekitar dua kali pengiriman ke setiap desa. Atau hanya mencukupi kebutuhan selama kurang lebih satu bulan,” jelasnya. (ay/han)

Editor : Amin Basiri
#sampang #kekeringan