SAMPANG, RadarMadura.id – DPRD Sampang menyoroti pembatasan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Kota Bahari. Hal ini memicu antrean panjang dan berpotensi membuka peluang terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di SPBU. Karena itu, dewan berencana memanggil pihak Pertamina.
Sekretaris Komisi II DPRD Sampang Muhammad Nur Mustakim mengatakan, pihaknya memang mendapatkan banyak keluhan dari masyarakat berkaitan BBM subsidi Pertalite. Informasi yang diterima, ada pengurangan (pembatasan) BBM jenis Pertalite di SPBU di Kabupaten Sampang.
Menurutnya, pembatasan atau pengurangan kuota BBM dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat.
”Memang banyak sekarang SPBU di Kabupaten Sampang mengalami antrean panjang karena BBM jenis Pertalite kosong,” katanya.
Mustakim mengutarakan, pembatasan BBM tersebut permasalahannya hampir sama dengan kelangkaan LPG 3 kilogram (kg) yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Karena itu, pihaknya berencana akan melakukan hearing bersama pihak Pertamina untuk mencari solusi terkait permasalahan BBM tersebut.
”Sekarang masih kami pelajari permasalahan BBM yang menyebabkan antrean panjang ini,” tuturnya.
Baca Juga: Pemkab Sampang Surati Kemensos, Minta Cover Ratusan Siswa Tak Lolos SRT
Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemkab Sampang terkait polemik BBM tersebut. Tujuannya, untuk mengurai permasalahan yang menyebabkan BBM di SPBU kosong. Saat ini pihaknya masih mengkaji sejumlah persoalan yang terjadi di lapangan.
Jika diperlukan, lanjut Mustakim, pihaknya akan melakukan hearing dengan bagian perekonomian dan melibatkan Pertamina Patraniaga. Tujuannya, untuk mengetahui apakah kendalanya di stok BBM atau yang lainnya.
”Jika membutuhkan klarifikasi dari Pertamina, akan kami panggil untuk mendiskusikan bersama polemik ini dan mencarikan solusinya,” tandasnya.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patraniaga Ahad Rahedi belum bisa dimintai keterangan terkait pembatasan BBM jenis Pertalite tersebut. Dia tidak merespons saat dikonfirmasi koran ini. Pesan WhatsApp yang dikirim juga tidak direspons meski terlihat centang biru (dibaca). (bai/bil)
Editor : Anis Billah