Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Cakupan Identifikasi Penderita TBC di Sampang Rendah

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 26 Mei 2026 | 13:32 WIB

CEK KESEHATAN: Petugas Puskesmas Karang Penang, Sampang, melakukan skrining kepada warga, Sabtu (18/4). (AYU LATIFAH/JPRM)

CEK KESEHATAN: Petugas Puskesmas Karang Penang, Sampang, melakukan skrining kepada warga, Sabtu (18/4). (AYU LATIFAH/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Angka penderita tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sampang tergolong tinggi.

Sementara hasil cakupan kinerja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang dalam upaya menemukan penderita TBC sangat rendah.

Fungsional Umum Analisis Data dan Informasi Dinkes KB Sampang Kurrotu Aini menyatakan, target untuk menemukan penderita TBC telah ditetapkan.

Yakni, 14.215 kasus suspek. Lembaganya meminta setiap puskesmas untuk menjaring dan menemukan penderita TBC melalui gejala yang dialami. Seperti batuk yang tak kunjung sembuh.

Hingga Jumat (8/5), terdapat 3.374 orang yang dinyatakan suspek TBC.

Namun, setelah melalui pemeriksaan lebih lanjut, hanya 516 yang dinyatakan positif menderita penyakit menular tersebut.

Aini mengakui cakupan dalam mengidentifikasi penderita TBC masih sangat rendah dibandingkan target yang telah ditentukan.

Bahkan progres catatannya, yang terendah ke-11 dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur (Jatim).

”Di Sampang masih tergolong rendah dibandingkan dari kabupaten lain. Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) juga masih rendah,” imbuhnya.

Rendahnya capaian tersebut karena beberapa faktor. Antara lain, masyarakat yang ditengarai mengidap TBC tidak jujur.

Selain sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri secara berkala sehingga menyulitkan dalam temuan kasus.

”Ada yang menolak saat hendak difoto, jadi persepsi masyarakat batuk ini bukan penyakit,” sambungnya.

Maka, untuk meningkatkan temuan penderita TBC, lembaganya melakukan skrining kepada masyarakat.

Selain itu juga pemanfaatan mesin X-ray yang akan dimulai Juni mendatang.

”Pemerintah sedang menggalakkan keterlibatan mayarakat, melalui Desa Siaga TBC,” pungkasnya.

Kapus Camplong Siti Hurin Ain membenarkan kesadaran masyarakat untuk mengenali penyakit TBC masih rendah.

Sebagian masyarakat menganggap penyakit TBC hanya batuk biasa dan bisa disembuhkan melalui pengobatan alternatif.

Maka, lembaganya dituntut untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang deteksi dini TBC.

”Saat ini yang sudah menjalankan pengobatan ada 32 pasien. Tetapi, kami optimalkan melalui cek kesehatan gratis (CKG) untuk menemukan suspek dan menskrining kontak terdekat pasien,” pungkasnya. (ay/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#suspek TBC #Mengidentifikasi #penderita tbc #skrining #rendah