SAMPANG, RadarMadura.id – Distribusi makan bergizi gratis (MBG) ke SMKN 1 Sampang ditolak, Senin (16/3).
Penolakan dilakukan lantaran pengiriman dari SPPG Dalpenang terlambat tanpa kejelasan.
Kepala SMKN 1 Sampang Suherman Hidayat mengatakan, pendistribusian MBG awalnya dijadwalkan pukul 09.00 hingga 10.00.
Pihak sekolah pun telah menginformasikan kepada siswa melalui wali kelas agar datang tepat waktu.
Baca Juga: APBD Miliaran Rupiah Ngalir ke Polres Sumenep, Untuk Kantin Rp 1,2 Miliar Lebih
"Semua siswa sudah hadir sejak pukul 09.30," ujarnya.
Namun, hingga waktu yang ditentukan, MBG tak kunjung tiba. Padahal, total penerima mencapai 1.002 siswa.
Meski sedang libur, para siswa tetap datang ke sekolah untuk mengambil jatah MBG.
Pihak dapur sempat memberi informasi bahwa distribusi diundur menjadi pukul 12.00.
Sekolah kemudian berupaya memastikan kepastian jadwal tersebut dengan menghubungi penanggung jawab SPPG Dalpenang.
"Kami konfirmasi ulang untuk memastikan apakah benar dikirim pukul 12.00, karena sampai pukul 10.00 belum datang dan siswa mulai bertanya," jelasnya.
Sayangnya, upaya konfirmasi tersebut tidak mendapat respons. Akibatnya, siswa memilih pulang karena tidak ada kejelasan. Pihak sekolah juga tidak dapat menahan mereka lebih lama.
Baca Juga: Rektor UIN Madura Genjot Mahasiswa Tembus Jurnal Sinta
"Semua siswa sudah pulang, termasuk guru yang bertugas mengoordinasikan MBG," katanya.
Setelah seluruh siswa dan guru meninggalkan sekolah, pihaknya menginstruksikan petugas keamanan untuk menolak jika MBG tetap dikirim pada hari itu.
"Saya sampaikan ke sekuriti, jika MBG datang, minta dikembalikan dan dikirim ulang keesokan harinya," tegasnya.
Keesokan harinya, MBG kembali didistribusikan. Pihak SPPG Dalpenang juga telah menyampaikan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi keterlambatan.
Suherman menegaskan, kejadian tersebut menjadi pelajaran agar koordinasi diperbaiki. Jika terjadi keterlambatan, pihak penyedia diharapkan memberi informasi lebih awal.
"Kalau memang akan telat, sebaiknya diberitahukan sehari sebelumnya agar tidak terjadi miskomunikasi," ujarnya.
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memiliki tanggung jawab terhadap siswa. Keterlambatan distribusi berdampak pada kepulangan siswa yang juga terlambat.
Baca Juga: Rumah Jadi Tempat Racik Mercon, Meledak, Empat Pemuda Terluka
"Ada sekitar tiga wali siswa yang menelepon karena anaknya belum pulang. Kami tidak bisa menahan siswa lebih lama," tambahnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Dalpenang Nur Octaviana Putri belum memberikan keterangan. Saat dihubungi melalui telepon, yang bersangkutan tidak merespons.
Hal serupa juga terjadi pada owner SPPG Dalpenang, Romli, yang belum dapat dikonfirmasi. (bai/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti