SAMPANG, RadarMadura.id – Pondok Pesantren Miftahul Ulum Karang Durin, Sampang, tidak hanya berdiri di Kabupaten Sampang.
Lembaga pendidikan yang mendidik sekitar 3.000 santri ini memiliki cabang pesantren di sejumlah daerah. Yakni, di Sampang, Kalimantan, dan Papua.
Ponpes yang berdiri di Desa Tlambah, Kecamatan Karang Penang, itu kini diasuh oleh KH Ahmad Fauzan Zaini. Pesantren ini berdiri sejak 1959 lalu. Artinya, tahun ini pesantren ini sudah berusia 66 tahun.
Pesantren Miftahul Ulum Karang Durin digagas oleh KH Badruddin dari Ponpes Miftahul Ulum Penyeppen, Pamekasan.
Kala itu, dia menyiapkan putranya, KH. Mohammad Sholeh Badruddin untuk mendirikan pesantren.
Warga setempat bernama Ibu Darma berniat menghibahkan lahannya untuk pesantren. Perempuan bernama asli Sarija itu memiliki banyak lahan di daerah tersebut.
Sayang, warga memanfaatkannya untuk maksiat, seperti perjudian dan lainnya. Untuk menghentikan kegiatan kurang terpuji itu, KH Badruddin membabat lahan tersebut untuk dijadikan pesantren.
Itu seperti yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Karang Durin KH Ahmad Fauzan Zaini, M.H. Dia mengutarakan, pihaknya tetap mempertahankan ciri khas pesantren salaf.
Namun, lembaga pendidikan telah berkembang dengan mendirikan berbagai lembaga formal di berbagai tingkatan.
Pesantren konsisten mencetak generasi muda islami yang mensyiarkan agama Islam. Hal itu dikemas dengan mengirim banyak guru tugas ke lembaga pendidikan setiap tahun.
Tidak hanya di wilayah Madura, guru tugas juga dikirim ke Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Kata dia, Ponpes Miftahul Ulum memiliki sejumlah cabang. Yakni, Ponpes At-Taufik di Desa/Kecamatan Robatal. Pondok yang baru berdiri sekitar 3 tahun lalu itu diasuh adiknya, KH Mohammad Khoiron.
Kemudian, cabang pesantren juga ada di Kalimantan. Yakni, Ponpes Nurul Hidayah Az-Zain yang berdiri pada 2015 lalu di bawah asuhan Ustad Abdurrohman Mistari. Selain itu, ada Pondok Pesantren Kasih Bunda, cabang pesantren yang ada di Papua.
”Cabang pesantren itu diasuh oleh Lora Arifin Munakib. Nama pesantren itu diambil dari nama kelompok majelis taklim perempuan yang sangat mendukung agar didirikan pesantren di sana,” terangnya.
Kiai Fauzan mengungkapkan, pihaknya mengelola sejumlah lembaga formal mulai tingkat pendidikan anak-anak hingga perguruan tinggi.
Yakni, tingkat taman Kanak-kanak (TK), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan sekolah menengah pertama islam (SMPI).
Kemudian, madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Az-Zain (Staiza). ”Kampus itu memiliki empat program studi.
Seperti, Prodi tarbiyah, prodi tafsir hadis, prodi ekonomi Islam, dan pendidikan guru madrasah ibtidaiyah (PGMI),” jelasnya. (jun/bil)
Editor : Achmad Andrian F