Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Inspiratif! Santri Pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid Garduak Sampang Berusia 50 Tahun

Achmad Andrian F • Senin, 17 Maret 2025 | 17:19 WIB

 

 

TELADAN: Ketua Yayasan Ponpes Nurul Jadid Garduak KH Ali Wahdi Dakholi mengambil kitab di rak di kediamannya, Kamis (6/3). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)
TELADAN: Ketua Yayasan Ponpes Nurul Jadid Garduak KH Ali Wahdi Dakholi mengambil kitab di rak di kediamannya, Kamis (6/3). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid tetap eksis sampai sekarang.

Sebelum berdiri pondok pesantren, lembaga pendidikan yang berlokasi di Dusun Garduak, Desa Lepelle, Kecamatan Robatal, Sampang, ini hanya berbentuk musala. Santri yang kali pertama mondok berusia 50 tahun.

Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Ponpes Nurul Jadid KH Ali Wahdi Dakholi. Kepada JPRM, dia menceritakan awal mula berdirinya pesantren tersebut Kamis (6/3). Menurutnya, ponpes didirikan oleh Kiai Bakol.

Awalnya, Nurul Jadid belum berbentuk pesantren, melainkan sebatas musala untuk mengajar mengaji Al-Quran santri warga sekitar. ”Saya kurang tahu kapan berdirinya musala itu,” ujarnya.

Kiai Ali mengutarakan, pengasuh musala pertama yakni Kiai Bakol. Lalu, dilanjutkan oleh Kiai Sijo dan diteruskan KH A. Mudassir Sijo.

Selanjutnya, musala tersebut diasuh KH Faisol Sijo dan saat ini dikembangkan oleh KH Ali Wahdi Dakholi.

Dia mengutarakan, pesantren mengelola pendidikan formal sejak dipimpin dirinya. Yakni, sejak 1985. Pihaknya mengembangkan pesantren yang semula hanya berbentuk musala.

Pesantren didirikan lantaran diminta oleh masyarakat sekitar agar Kiai Ali mengajar kitab. Sebab, masyarakat sekitar masih minim pengetahuan tentang keagamaan.

Lembaga pendidikan yang pertama didirikan yakni madrasah diniyah pada 1985. Pada 2000, mulai dibangun pendidikan formal seperti MI, MTs, dan MA.

MUSYAWARAH: Santri putra sedang belajar bersama di gubuk Ponpes Nurul Jadid, Kamis (6/3). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)
MUSYAWARAH: Santri putra sedang belajar bersama di gubuk Ponpes Nurul Jadid, Kamis (6/3). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)

”Pesantren ini didirikan untuk memberikan pemahaman terhadap santri-santri di pondok,” ulas suami Nyai Hamidah itu.

Dia menjelaskan, awal mula didirikan pesantren, santri yang mondok hanya empat orang. Mereka berasal dari Kecamatan Sokobanah dan warga sekitar. Waktu itu, santri yang mondok mayoritas berusia 50 tahun.

”Kalau jumlah santri sekarang 500 orang. Pondok pesantren ini sudah berusia 40 tahun. Awal berdiri pesantren 1985, sebelum masa reformasi Indonesia,” terangnya.

Tokoh berusia 61 tahun itu memaparkan, kitab yang diajarkan terhadap santri beragam. Antara lain, Aqidatul Awam, Safinatun Najah, Syarah Sullam Taufiq, dan beberapa kitab lainnya. Para guru MD diwajibkan mengaji kepadanya.

Kiai Ali menekankan para santri belajar ilmu tauhid. Menurutnya, ilmu tauhid dijadikan fondasi sebelum belajar ilmu pengetahuan yang lain.

”Sebelum belajar ilmu yang lain, fondasi tauhidnya harus kuat terlebih dahulu,” papar bapak sepuluh anak itu.

Selai itu, santri diajari ilmu fikih dan ilmu alat seperti nahwu, sorrof, balaghah, musthalah hadits,  ilmu tafsir, dan sebagainya.

”Semua ilmu itu sudah diajarkan kepada santri. Kami minta mereka mengajar agar ilmunya tetap bermanfaat,” tandasnya. (bai/bil)

Editor : Achmad Andrian F
#Nurul Jadid #pondok pesantren #sampang #santri