Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mengkhawatirkan, Terduga Pelaku Asusila di Sampang Cenderung Orang Dekat Korban

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 19 Desember 2023 | 03:43 WIB
SANTAI: Pemuda duduk di sekitar Alun-Alun Trunojoyo, Sampang, Sabtu (16/12). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
SANTAI: Pemuda duduk di sekitar Alun-Alun Trunojoyo, Sampang, Sabtu (16/12). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Kota Bahari belakangan ini kian mengkhawatirkan. Ironisnya, rata-rata terduga pelaku kasus tersebut dilakukan oleh orang terdekat yang ada di lingkungan rumah korban.

Terduga pelaku kasus dugaan asusila bisa saja berasal dari keluarga, teman, atau tetangga korban. Lemahnya pengawasan dan lingkup pergaulan anak menjadi salah satu pemicu terjadinya tindakan amoral tersebut.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinsos PPPA Sampang Masruhah mengatakan, kasus dugaan kekerasan seksual pada anak cukup tinggi. Bahkan, meningkat selama tiga tahun terakhir. ”Pada 2020, sebanyak tujuh kasus, sedangkan pada 2021 sebanyak 12 kasus. Tahun 2022  naik menjadi 13 kasus. Khusus tahun ini sudah ada 16 kasus,” ucapnya.

Masruhah menuturkan, tahun ini rata-rata korban kekerasan seksual berumur 14–16 tahun. Mirisnya, usia beberapa korban di antaranya di bawah 10 tahun. ”Kami tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan korban. Yang mengejutkan, terduga pelaku adalah orang-orang terdekat korban,” ungkap Masruhah.

Dijelaskan, Dinsos PPPA Sampang telah melakukan kajian terkait kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami anak. Tren perkara itu menurun saat pandemi Covid-19 dan kembali meningkat usai pandemi berlalu. ”Kalau saat pandemi kan masih dibatasi. Sekolah juga dilaksanakan secara daring. Sekarang anak bebas berkeliaran. Keluarga harus memperketat pengawasan,” imbau Masruhah.

Meski begitu, dia tidak memungkiri bahwa ada beberapa kondisi saat keluarga tidak bisa mengawasi anak secara langsung. Misalnya, orang tuanya bekerja di luar negeri. ”Sebagian orang tua terpaksa meninggalkan anak untuk mencari nafkah. Kemudian, anak dipasrahkan kepada kerabat lain atau bahkan ditinggal sendiri. Kondisi itu yang menyebabkan anak rentan menjadi korban,” pungkasnya. (afg/yan)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#korban #anak #sampang #kekerasan seksual #Dinsos PPPA