DALAM satu hal, semua orang sepakat ingin hidup sehat. Berbagai cara dilakukan, mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, dan istirahat secukupnya untuk memperoleh dan menjaga kesehatan. Namun, tak jamak orang yang berusaha mencegah munculnya penyakit yang kerap disebabkan oleh sampah.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa sampah termasuk masalah global yang sulit untuk diatasi. Sebab, minimnya kesadaran masyarakat, minimnya alat pendaur ulang sampah, serta lamanya jangka waktu penguraian sampah secara alami.
Sampah terbagi menjadi dua macam: organik dan anorganik. Sampah organik mudahnya ialah sampah yang mudah terurai. Seperti, dedaunan, kulit pisang, nasi basi, dan ranting pohon. Sedangkan sampah anorganik ialah sampah yang sulit untuk terurai secara alami. Seperti sandal jepit, kaleng, botol minuman, dan yang paling banyak digunakan yaitu kantong plastik atau yang akrab dikenal dengan sebutan kresek.
Masalah sampah adalah masalah kita semua yang harus diselesaikan secara bersama. Terutama pada masa kini, kehidupan manusia yang nyaris tak bisa lepas dengan sampah, apalagi sampah plastik. Plastik seakan-akan selalu membuntuti keseharian hidup kita. Buktinya, di pasar, di dapur, di ruang tamu, di kamar mandi dan di sekolah, semua terdapat sampah plastik.
Sampah plastik memang remeh kedengarannya. Walakin, sampah plastiklah yang paling berat masalahnya, jika dibandingkan dengan masalah besar lainnya. Seperti limbah pabrik, limbah hilirisasi, penambangan dan yang lainnya. Mengapa begitu? Ya karena, tanah saja butuh ratusan tahun tuk mengurainya, itu pun butuh paparan sinar matahari.
Sampah yang cukup lama tak diatasi tersebut, juga akan menimbulkan bencana yang cukup fatal bagi kehidupan makhluk. Di antaranya banjir, pencemaran lingkungan, dan menipisnya lapisan ozon –yang jamak disebabkan pembakaran sampah secara besar-besaran. Dampak itu pun bisa kita rasakan sendiri, bahkan cucu-cucu kita (yang tak berdosa) itu juga akan merasakannya.
Jika di atas dianggap isu sensitif dan berbahaya, maka sebagai makhluk yang diberkahi akal dan pikiran, turut serta melestarikan bumi agar terhindar dari kata hancur. Adanya sampah disebabkan kita semua, maka kitalah yang harus bertanggung jawab atas segala yang telah kita lakukan sendiri. Bukan hanya pemerintah tertentu yang terjun mengatasinya.
M. Faizi, salah seorang kiai di Ponpes Annuqayah serta penulis buku ini, menjelaskan, penyebab cepat meningkatnya sampah plastik ialah mudah dijangkau di tempat-tempat terdekat, mulai dari mal, Alfamart hingga toko-toko kecil seperti toko kelontong pun juga menyediakan plastik. Murahnya harga plastik, terus menerusnya pembuatan plastik, dan ketiadaan aturan pemerintah setempat tentang pembatasan penggunaan plastik.
Di samping hal itu, ada beberapa cara yang dipandang bisa mengurangi sampah plastik oleh M. Faizi. Di antaranya menghindari menggunakan plastik sekali pakai, mengadakan norma-norma tentang penggunaan plastik, meningkatkan penyediaan teknologi pendaur ulang sampah. Sedangkan untuk mengatasi sampah yang telanjur menyebar ke mana-mana, maka kita harus membentuk organisasi pemungut sampah, yang tentunya bukan hanya terdiri dari pemerintahan, melainkan harus melibatkan banyak orang, serta menghilangkan persepsi buruk masyarakat terhadap seseorang yang membersihkan lingkungan dari sampah, atau yang kita kenal dengan sebutan pemulung sampah.
Mayoritas orang memiliki asumsi, bahwa sampah itu sesuatu yang jorok dan seorang pemungutnya itu adalah orang yang jelek, bau, hitam, miskin, kotor, menjijikkan, dan anggapan buruk lainnya. Jadi kita harus menghilangkan anggapan seperti itu, karena jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, tidak ditangani, maka lingkungan tidak akan pernah bersih dari sampah. Dengan demikian, kita harus membangun kesadaran, mental, dan keberanian agar tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang-orang.
Dulu salah seorang kiai di sekolah, pernah berpesan, ”Kita jangan menjadikan omongan orang lain mengganjal perjuangan kita. Jika menurut kita baik, ya lakukan. Jangan mengikuti apa kata mereka, karena terkadang mereka itu benci, iri atau cemburu terhadap kita. Jadi percayalah dengan kata hatimu sendiri.”
Kita harus merencanakan suatu cara agar bisa menghilangkan perspektif jelek masyarakat dengan berbagai cara. Seperti yang telah dilakukan oleh Kiai Mustofa, yang pada saat itu beliau sebagai kepala SMA 3 atau yang kita kenal dengan sebutan SMAGA dengan mendirikan organisasi pemungut sampah. Lalu lambat laun, nama itu pun diubah berkat usulan salah seorang guru, yang semula bernama pemungut sampah, kini menjadi pemungut sampah gaul atau yang kerap disebut PSG. Nama itu dipandang (oleh mereka–guru) sedikit banyak mampu mengubah anggapan miring masyarakat terhadap seorang pemungut sampah, termasuk masyarakat sekolah sendiri.
Buku ini sangat bagus, kata yang digunakan untuk menjelaskan kepada pembaca mudah dicerna oleh akal, sekalipun pemula yang membacanya. Buku ini juga memberi alarm kepada kita akan bahayanya sampah, terutama sampah plastik. Di dalamnya ada banyak esai tentang sampah yang juga diselipkan sedikit cerita yang akan membuat Anda terhibur. (*)
IBAD
Pelajar yang baru belajar menulis, asal Bondowoso
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti