Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Misi Sosial dan Idealisme Haji Her

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 28 Juli 2024 | 17:05 WIB
Resensi buku Catatan si Mujur; Memoar Haji Her. Penulis Esa Arif AS.
Resensi buku Catatan si Mujur; Memoar Haji Her. Penulis Esa Arif AS.

DALAM beberapa tahun terakhir nama H Khairul Umam (Haji Her) menjadi buah bibir masyarakat Madura, bahkan hingga ke level nasional. Popularitasnya memuncak saat dirinya mulai disebut-sebut sebagai sultan Madura.

Terkenalnya Haji Her tersebut tentu bukan sesuatu yang tiba-tiba, tetapi lebih sebagai buah manis dari kegigihannya dalam membangun usaha selama bertahun-tahun. Dan, setelah usahanya mulai melejit, dia jadikan sebagai media untuk merangkul masyarakat dengan berbagai cara yang dia tempuh, yang kemudian membuatnya dikenal baik oleh banyak orang.

Dalam konteks inilah Haji Her disebut sebagai sosok yang memiliki idealisme, karena dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memberi kemanfaatan bagi orang lain. KH Afifuddin Thoha (pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Sumber Gayam) menegaskan bahwa idealisme Haji Her adalah mengangkat kehidupan masyarakat (hlm. 143).

Awal mula lahirnya idealisme seorang Haji Her adalah saat dirinya melihat langsung penderitaan petani tembakau, sisi gelap ketidakadilan yang sering kali menimpa para petani tembakau akibat kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, menjadikannya berpikir keras untuk hadir sebagai penyelamatan petani.

Itu yang menjadikan dirinya harus memberanikan diri membeli tembakau petani. Padahal keputusannya itu sangat berisiko bagi dirinya, karena jelas dia akan berhadapan dengan kelompok-kelompok besar (pemodal) yang selama ini sudah menjadi pembeli tembakau petani. Tapi, itu tak menjadi soal, karena mimpi besar Haji Her adalah menyelamatkan petani.

”Saya hanya ingin membantu petani, memuliakan petani dan tidak mau melihat petani selalu dipermainkan oleh mafia tembakau. (Dalam pembelian tembakau) saya tidak peduli untung atau rugi.” (hlm. 55).

Kegigihan dan spirit idealisme Haji Her tersebut rupanya tak sia-sia, ibarat pepatah ”tak ada hasil yang mengkhianati proses”. Itulah yang didapat oleh seorang Haji Her, dalam waktu yang tak begitu lama dirinya sudah berhasil mengembangkan usahanya yang secara langsung berimplikasi pada kesejahteraan petani. Dari hasil usahanya tersebut dia kembangkan juga sebagai ladang ibadah melalui kegiatan sosial yang dilakukan secara rutin.

Sementara itu, sebagaimana lazimnya proses perjalanan hidup setiap orang, Haji Her juga tidak luput dari realitas pahit manisnya kehidupan. Buku terbitan Duta Media Publishing ini juga berhasil merekam jejak kehidupan Haji Her pada masa kecil hingga proses menata sukses. Latar belakang keluarganya yang merupakan petani menjadi potret nyata bahwa Haji Her kecil pernah ditempa dengan proses yang berdarah-darah.

Saya ini orang biasa, dari keluarga yang biasa saja, bahkan orang susah, bukan dari keluarga orang kaya. Ya sama seperti orang-orang lainnya (hlm. 2). Namun, situasi itulah yang menjadikannya memiliki tekad kuat untuk mengubah semuanya, terutama dalam mengangkat nasib para petani saat dihadapkan pada realitas pertanian yang nyaris tak ramah pada petani.

Setelah proses panjang yang dia lakukan, akhirnya dia bisa meraih apa yang dia inginkan. Haji Her kemudian tak lantas lupa daratan, meski dirinya oleh orang sudah disebut sebagai sultan Madura bukan lantas dia acuh dengan kehidupan sosial. Justru sosoknya dikenal baik oleh masyarakat lantaran secara rutin dirinya hadir ke masyarakat untuk berbagi dan memberikan apa yang dia punya.

Dalam buku setebal 171 halaman ini, Haji Her digambarkan sebagai sosok filantropi yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, terutama bagi mereka yang kurang beruntung. Hal itu dia wujudkan dalam beberapa kegiatan rutin yang diorganisasi oleh timnya, seperti bantuan sosial, bedah rumah, beasiswa, serta bantuan hukum untuk masyarakat miskin.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia (lainnya). Saya ini belum apa-apa dibanding almarhum bapak, saya sering mendengar cerita, dulu bapak sering membantu orang meskipun tidak punya apa-apa, sementara saya ini memberi karena memang sudah punya (hlm. 66).

Spirit idealisme Haji Her tersebut ternyata juga menjadikannya dikenal sebagai sosok pemimpin yang berwibawa. Hal tersebut tidak hanya diakui oleh masyarakat Madura, tetapi juga oleh institusi-institusi lainnya. Pemberian gelar Kanjeng Raden Tumenggung Khairul Umam Hadinagoro dari Keraton Surakarta menjadi bukti kuat bahwa sosoknya sudah diakui oleh banyak pihak. Gelar tersebut menunjukkan pengaruh dan peran pentingnya dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat (hlm. 109).

Sebagai naskah profil, buku ini memang belum sempurna. Penulis perlu melakukan penyuntingan ulang untuk merekam lebih dalam sosok dan denyut nadi perjuangan Haji Her. Namun, secara umum pembaca sudah bisa menemukan informasi tentang idealisme Haji Her, terutama dalam ikhtiarnya mengangkat kesejahteraan petani tembakau di Madura. Selamat membaca. (*)

AHMAD WIYONO

*)Ketua Lakpesdam PCNU Pamekasan

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#membantu petani #Idealisme #masyarakat miskin #petani tembakau #kesejahteraan petani #kegiatan sosial #masyarakat Madura #bantuan hukum #Haji Her