Oleh SYARIFUL A’LAA
PERDEBATAN paradigma sains dan agama, seiring perkembangan zaman, bukan menemukan titik final penyelarasan. Adanya, hanya tumpang tindih argumentasi yang diyakini sebuah kebenaran. Akibatnya, aliran fanatisme pun bermunculan. Pandangan pribadi dinilai sebuah kebenaran. Pandangan orang lain adalah kesalahan. Walhasil, perdamaian yang dicitakan, menjadi utopia semu yang tidak pernah kesampaian.
Nasr adalah sosok ilmuan terkemuka. Pengaruhnya cukup besar mewarnai alam raya. Baginya, antara sains dan agama justru memiliki hubungan erat antar keduanya. Tiada perbedaan garis demarkasi begitu kentara. Pada hakikatnya, sains adalah pancaran dari Yang Maha Intelek, yang dalam Islam disebut ’aliman, yakni zat Yang Maha Mengetahui (Tuhan). Singkatnya, agama dan sains sama-sama merupakan jalan panjang menuju Tuhan. Keduanya layaknya sebuah doa dan usaha yang meniscayakan untuk selalu berdampingan. Ketika agama tanpa sains berarti itu ”bohong”, sementara sains tanpa agama berarti ”sombong”.
Melalui buku Scientia Sacra, Mahmudi memberikan penawaran gemilang seputar sains dan agama. Menurutnya, garis demarkasi dari keduanya justru muncul dari manusia modern yang memiliki pandangan sains harus lepas dari agama. Ketika sains tetap harus berdampingan dengan agama—dalam pandangan manusia modern—secara tidak langsung akan me-niskala-kan sains yang seharusnya menemukan kebenaran dengan bukti yang konkret lagi nyata. Sementara agama, senantiasa meyakini sesuatu yang metafisik daripada yang nyata.
”Aku berpikir maka aku ada” Inilah menurut Mahmudi sumber kemunculan garis demarkasi antara sains dan agama. Sebuah pandangan yang lahir dari petuah tua filsuf Prancis, Rene Descartes, yang menjadi napas zaman modern kita. Karena inilah, manusia sebagai titik pusat utama, menggunakan rasio sebagai sumber dari kebenarannya. Sehingga pada perkembangannya, rasio sebagai titik sentral dalam sains modern, mengeliminasi metafisika, yang berabad-abad telah menjadi sumber kebenaran umat beragama (hlm: xi).
Arus sains modern inilah yang kemudian digugat oleh Nasr dengan formasi sains yang ia tawarkan, yang kemudian disebut dengan scientia sacra. Menurutnya, sains justru bermuara dari Tuhan, tidak seharusnya dipisahkan. Formasi sains seperti ini yang kemudian merajut kembali hubungan sains dengan Tuhan. Bagi Nasr, seluruh ilmu pengetahuan dapat dijadikan jalan menuju Tuhan. Intinya, ada spiritualitas dalam sains.
Sebelum memahami jauh tentang formasi sains ala Nasr, ada baiknya mengetahui bahwa kehadiran formasi sains ala Nasr tidak hendak meng-islam-kan sains dan ilmu pengetahuan, melainkan sebuah penegasan Nasr terhadap gelombang ilmu pengetahuan untuk mengungkap sifat kasih sayang Tuhan kepada makhluknya. Sebab dalam hal ini, Nasr sering kali membuat perbandingan antara agama Hindu, Buddha, Kristen, demikian pula agama Tao.
Dalam melacak formasi sains ala Nasr, Mahmudi menggunakan tiga kerangka kolaboratif yang diyakini dapat menuju wawasan formasi sains Nasr. Yakni, kerangka ontologis, epistemologi dan kerangka aksiologis (hlm: 49). Dalam kerangka ontologis, Nasr menolak paham yang menganggap realitas hanya terbatas pada materi saja. Pada hakikatnya, realitas itu berlapis dan mengacu pada realitas perennial, yaitu kebenaran abadi (hlm: 51). Alam merupakan bentuk manifestasi dari sang Ilahi. Alam tidak berdiri dengan sendirinya, namun tetap bergantung pada yang menciptakannya. Sementara ide Descartes adalah realitas emipiris yang ilusi dan tidak nyata.
Secara ontologis, gagasan Nasr berbeda dengan gagasan modern. Jika rasio dalam kacamata paradigma modern dianggap sebagai kebenaran tunggal, maka Nasr menganggap rasio hanya sebagai salah satu alat mencapai kebenaran. Ibaratnya, buku adalah kebenaran yang absolut, sementara teks-teks di dalamnya berarti alat menuju pemahaman yang absolut. Semuanya berada dalam dekapan sang buku.
Dalam kerangka epistemologi, formasi sains Nasr merupakan sebuah iluminasi dari intelek kepada rasio manusia. Akal merupakan buah refleksi yang pengetahuannya bersumber dari intelek. Intelek merupakan dasar akal, jika akal sekiranya sehat dan normal dengan sendirinya akan sampai pada intelek. Wadah intelek yang mampu memancarkan pengetahuan yang bersumber dari Yang Suci, adalah ”hati”, hanya dengan hati yang suci kertersambungan pada roh yang qudus bisa berelasi, sehingga sebagian pengetahuan yang qadim dapat diterima oleh hati (hlm: 60). Pada akhirnya, seseorang dengan rasionalitasnya akan mengantarkan pada kebenaran yang abadi, yakni kebenaran ilahi.
Dalam wilayah aksiologi, formasi sains Nasr di muka, terwujudkan salah satunya ke dalam bentuk seni. Menurut Nasr, seni berisi simbol yang kaya. Melalui simbol-simbol inilah dapat mengantarkan pada keindahan Tuhan. Akhirnya manusia akan sampai pada keindahan Tuhan dan beraksi pada kerukunan antar agama (hlm: 64). Secara aksiologis, scientia sacra menemukan tempatnya pada aplikasi kebudayaan, tradisi, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai ketuhanan. Fungsinya adalah untuk kebenaran yang dianggap nyata, dan hal itu berada pada jantung dari tradisi setiap agama.
Terakhir, tiga kerangka yang telah disebutkan di atas, merumuskan sebuah kesimpulan bahwa formasi sains ala Nasr meliputi ruang materi dan ruang mistikal untuk sampai pada kebenaran yang Tunggal. Wallahu A’lam. (*)
*)Mahasiswa Instika Guluk-Guluk, Sumenep.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti