PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pendirian Yayasan Bani Shonhadji berdampak dalam mencerdaskan masyarakat.
Yayasan ini menaungi dua kelembagaan besar. Yakni, Lembaga Pendidikan Islam Nurul Huda dan lembaga sosial keagamaan.
Lembaga Pendidikan Islam Nurul Huda terdiri atas pondok pesantren, KB, TKS Al-Qur’an, MI Tahfid, MDT, dan TPQ Nurul Huda.
Pondok Pesantren Nurul Huda didirikan oleh KH Maksum Bachrawi pada 1963. Kemudian pada 1984 KH M. Dachlan Maasbah berinisiatif mendirikan madrasah dengan direstui oleh KH Maksum Bachrawi.
Madrasah yang kali pertama didirikan adalah Madrasah Diniyah Takmiliyah Nurul Huda. ”Alhamdulillah, sudah berjalan beberapa tahun dan sudah banyak menghasilkan alumni yang juga bisa bermanfaat untuk masyarakat luas dengan berbagai profesi,” ujar KH M. Dachlan Maasbah selaku pengasuh.
Pada saat itu belum ada tempat atau gedung khusus untuk kegiatan belajar mengajar. Kali pertama madrasah didirikan itu menempati emperan-emperan masjid. Sebab, untuk membangun kelas terkendala masalah pendanaan.
”Alhamdulillah, pada 1987 bisa mendirikan sekolah hingga sekarang sebanyak 6 lokal,” ucapnya.
Animo masyarakat untuk belajar sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah siswa hingga mencapai 300 orang. Pada saat itu juga tidak banyak lembaga.
Pada 1997 didirikan TK Al-Qur’an Nurul Huda sebagai wadah agar anak-anak sejak dini sudah bisa membaca dan mencintai Al-Qur’an. Setelah TK, berinisiatif untuk mendirikan KB pada 2003.
Pada awal playgroup berdiri, pihak yayasan memiliki banyak tantangan. Masyarakat memperkirakan lembaga ini tidak akan berjalan karena mereka menilai anak seusia 4 tahun tidak mungkin bisa dimasukkan sekolah.
”Itu mindset masyarakat waktu itu, tapi alhamdulillah anggapan itu tidak benar dan pendidikan ini berjalan dengan sukses,” ungkapnya.
Pada 2022, KH Dachlan Maasbah terus melakukan pengembangan dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Tahfid Nurul Huda. (sin/luq)
Editor : Ina Herdiyana