Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa dalam Pandangan Filsuf

Hera Marylia Damayanti • Senin, 18 Maret 2024 | 15:15 WIB
Agus Widiey
Agus Widiey

Oleh AGUS WIDIEY

BULAN Ramadan bisa dijadikan momentum awal bagi seseorang untuk belajar menahan diri. Baik itu nafsu lahiriah maupun batiniah. Kemudian, semua yang telah dipelajari harus bisa kita pertahankan di hari-hari setelah Ramadan.

Ramadan itu, kalau boleh saya ibaratkan seperti halnya dengan kita mengikuti pelatihan menulis selama satu bulan. Setelah selesai dalam waktu sebulan itu, kita harus tetap konsisten berbuat sesuai amalan Islam yang ditekuni dengan baik selama satu bulan. Termasuk, menahan hawa nafsu yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.

Metode puasa juga bisa kita lihat dari teori filsafat, bahwa puasa merupakan proses pembelajaran. Karena dengan melakukan puasa, orang seharusnya mencerap pengetahuan, memperoleh kesimpulan dan makna, serta pembiasaan yang jadi sikap hidupnya. Puasa harus bisa melawan rasa malas, harus bisa melawan amarah dalam diri. Karena itu, puasa juga sebagai proses dialektika antara keimanan dan kesabaran, sehingga terbentuk ketakwaan.

Pandangan Plato

Pada zaman Yunani kuno, seorang filsuf murid Aristoteles, yaitu Plato, meletakkan tiga spirit dikenal sebagai logistikon, thumos, dan epithumia. Epithumia disimbolkan secara fisik, lahiriah sebagaimana gerak evolusi mengutamakan makan, minum, dan seks (biologis). Sedang logistikon merupakan tingkatan tertinggi, yaitu revolusioner menyangkut perubahan kualitas sebagaimana kepandaian, kebijaksanaan, intelektualisme. Tak menutup kemungkinan gerak revolusioner mengalami dekadensi kemanusiaan apabila manusia kembali turut setiap kehendak raga kerap mengutamakan aspek bilogis semata.

Plato menjadikan tingkatan tertinggi manusia, yaitu tahapan logistikon hidup menggunakan akal. Puasa diibaratkan proses pematangan diri menuju manusia revolusioner, manusia yang mampu melaksanakan perubahan dengan upaya intelektualitas, keberimanan, dan ketakwaan.

Takwa yang dijadikan tujuan dari ibadah puasa, sejatinya merupakan sebuah konsep perilaku moral yang dalam konteks pendidikan umum merupakan hal rumit. Socrates (Kneller, 1971: 223) pernah menjelaskan, perilaku moral dapat diajarkan jika dan hanya jika dimaksudkan menyadarkan seseorang tentang kebaikan.

Terkait puasa, filsuf Plato pernah berkata ”Aku berpuasa agar fisik dan mentalku lebih efisien.” Di antara strategi agar tetap sehat, fisik, dan mental itu jalannya puasa. Kata Plato, ”mental dan fisik sehat kalau aku puasa, lebih efisien”. Jadi kalau mental kita merasa terganggu banyak masalah boleh diobati dengan puasa.

Pandangan Al-Ghazali

Kemudian dari intelektual muslim, seperti Imam Al-Ghazali (450 H/1058 M–505 H/1111 M), baik dalam buku-buku filsafat maupun dalam buku-buku tasawufnya menyebutkan (Nasir Nasution, 1988: 65) bahwa struktur eksistensial manusia terdiri dari jiwa (Al-Nafs, Al-Ruh) dan badan (Al-Jism) yang membentuk suatu entitas dalam realitas yang disebut manusia. Menurut Al-Ghazali, dalam proses mengetahui dan proses terjadinya perbuatan manusia, badan berfungsi instrumental bagi jiwa, seperti hubungan kuda dengan penunggang kuda. Jiwalah yang memegang inisiatif yang menentukan perbuatan.

Badan, bagi Al-Ghazali, sering kali jadi penghalang bagi jiwa untuk mencapai/menangkap hakikat, terutama hakikat diri sebagai dasar menangkap hakikat Tuhan dan kebenaran. Ada lima situasi jiwa yang terhalang menangkap hakikat, yaitu belum sempurnanya jiwa, jiwa yang kotor karena maksiat, terlalu menurutkan keinginan badan, jiwa tertutup karena taklid, dan karena tidak berpikir logis.

Kemudian Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, juga menjelaskan tingkatan-tingkatan dalam berpuasa, yang dibaginya ke dalam tiga bagian. Di antaranya, shaumul umum, shaumul ‎khusus, dan shaumul khususil khusus. Tingkatan puasa yang dilakukan Imam Al-Ghazali ini tidak lain sebagai bentuk pengklasifikasian agar setelah menapaki bulan Ramadan setiap tahunnya, kita bisa sampai pada tingkatan tertinggi.

Tingkatan yang pertama, yaitu puasanya orang awam. Disebut sebagai shaumul umum atau puasanya orang awam. Karena puasa ini biasa dilakukan kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum, dan dianggap biasa-biasa saja. Artinya, praktik puasa yang dilakukan di tingkatan ini sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat. Termasuk juga bagi pemuda, menahan diri dari rayuan makan gratis seorang teman.

Yang kedua, puasanya orang khusus. Disebut juga sebagai shaumul khusus atau puasanya orang tertentu. Dalam tingkatan puasa ini lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar, dan hal-hal yang membatalkan. Akan tetapi, berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dalam kata lain, mulut tidak hanya menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah.

Kalau seperti zaman sekarang, mungkin termasuk juga menahan jari-jarinya agar tidak menyebarkan bermacam berita bohong atau status yang hanya meninggalkan fitnah dan lain sebagainya.

Yang ketiga, puasanya orang superkhusus, termasuk tingkatan tinggi dalam klasifikasi Imam Al-Ghazali, disebut shaumul khususil khusus. Inilah praktik puasanya orang istimewa. Karena tidak hanya menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hati dari keraguan dari hal-hal keakhiratan. Menahan pikiran dari masalah duniawi, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Tuhan.

Sedang standar batalnya puasa ini, bagi mereka sangat tinggi, yaitu apabila terbesit di dalam hati dan pikirannya tentang selain Tuhan, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan duniawi. Bahkan, menurut kelompok tingkatan yang ketiga ini, puasa dapat terkurangi nilainya dan bahkan dianggap batal apabila di dalam hati tersirat keraguan, meski sedikit saja, atas kekuasaan Tuhan. Puasa dalam tingkatan ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin.

Dari tiga tingkatan puasa yang sudah dijelaskan di atas, berada tingkatan mana puasa kita selama ini? (*)

*)Alumnus Ponpes Nurul Muchlishin, Pakondang, Rubaru, Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

 

Editor : Hera Marylia Damayanti
#orang superkhusus #ramadan #Tingkatan Puasa #orang awam #orang khusus #teori filsafat #ibadah puasa