CATATAN: MEGALOMANIA
Oleh: Joni Efendy*
Dan bersabdalah sang hamba Tuhan
”Aku telah mengangkat gunung dan menghancurkannya.”
Insan-insan bodoh tercengang dan memujinya.
Lalu ia memperlihatkan foto bapaknya.
Katanya, ”Bapakku sukses, di Kementerian Agama.”
Tepuk tangan terdengar; satu, dua, hingga akhirnya berisik bak hujan yang turun tiba-tiba.
Ketika sekumpulan orang bodoh berbicara, menuangkan pikiran dan gagasan,
matanya semu, kulihat dari kejauhan.
kepalanya mendidih, darahnya naik, napasnya tertahan.
Ketika sekumpulan orang bodoh bercerita tentang hidup mereka yang membaik, tentang prestasi yang mulai menanjak,
pujian dan tepuk tangan pun teralihkan, memusat pada si bodoh yang mulai tenar.
Di pojok ruangan, kulihat kerutan mulai tampak di dahinya.
Matanya merah bak api yang membakar.
Seberapa banyak rokok yang ia habiskan hanya untuk mempertahankan popularitas yang mulai tergeser?
Ketika malam tiba,ia memasang namanya di berbagai surat kabar.
Ia tonjolkan namanya, agar orang-orang dapat melihat dan memujinya.
Apabila itu tak terjadi, maka ia akan membenci namanya sendiri.
Pakondang, 05 Juni
*)Penulis lahir di Batuputih, berdomisili di PP Nurul Muchlishin, Pakondang, Rubaru, Sumenep. Menulis puisi sebagai bentuk ungkapan pengamatan terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Editor : Amin Basiri