Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi -Puisi Pierre

Amin Basiri • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:08 WIB

 

Designart Abstract Midcentury Oversized Wall art decor
Designart Abstract Midcentury Oversized Wall art decor

 

Aku Seorang Anjing Liar

Pada mulanya aku hidup dalam Tuhan 
Dan Tuhan hidup dalam diriku
Pada mulanya aku lahir dari rahim ibu
Mengeluarkan puisi satria
Dikumandangkan arwah sembari berbisik ditelingaku

Pada akhirnya di tanah ini
Anjing berkepala media
Berak dalam sukma.
Aku tunduk pada titah penguasa liar
Memakan sukma media
Menjadikan aku sebagai sabda 
Yang lahir dari lidah Tuhan 
Dan diasuh lidah setan

Aku hidup di dunia luar 
Berkelana dengan skenario manusia
Menghuni Sungai Smorzando 
Berani menggonggongi neraka afrit
Bagaimana dengan Tuhan?
Dihunus pemabuk dosa
Terbuat dari api asi
Hangus membakar diriku sendiri

Di sini, perkenalkan diriku
Aku seorang anjing liar
Aku musuh Tuhan
Aku jauh terpental
Agama, orang tua, dan manusia
Semua adalah beban

Aku di sini dicap sebagai anjing liar
Sebagai remaja mabuk media, pemuntah agama
Tak pernah ingat pada Sang Esa.

 

Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lalu

Jika kau tanya padaku
Aku mau hidup seribu tahun lalu
Di antara batu
Riang menembus mata yang terang
Mengguncang kesadaran daratan
Aku terkekeh
hidupku diguncang angin topan
Meruntuhkan begitu panjang jalan
Yang selama ini ditebang bangsawan
Bagimana, Bu, jika aku tak melihatmu menanak nasi di ujung pagi?
Karena padi yang selama ini 
Kau tanam sendiri
Dibawa ombak pengangkut
Menyisakan lumpur perpisahan
Tak punya tanggung jawab besar

Bumi begitu bekerja keras
Melepas asapnya kepada Tuhan
Memperjuangkan manusia
Yang selalu sibuk merusak partikel bumi

 

Bayangan Kemarau

Kepalamu memiliki ribuan mata lampu jalan
Matamu laut yang akan menenggelamkan
Bagaikan bayangan menghalau kemarau
Masa lalu yang sudah lama tertelan
Kini hanya tertarik pada bayangan
Yang dilekuk lantai
Kemarau menggaruki kebun ladang
Padi-padi berburu di atas tanah
Abjad-abjad kini mulai diisap siasat
Kita berdiri tanpa tulisan
Tanpa pendidikan
Tanpa kepercayaan

 

Kembali Menerima Puisi

Pagi yang cerah tak tahu arah
Aku datang pada seribu botol 
Tanpa pasrah
Aku menerima satu panggilan
Yang tak tahu ke mana aku harus pulang
Di depan dan ditarik ke dalam
Dengan beribu kertas
Dan berselimut tikar
Aku menumpahkan semua yang telah datang
Lekaslah…
Aku kembali pada seorang pemuda
Yang menyuguhkan beribu ocehan bunda
Aku pulang
Dan aku kembali utuh seperti semula

 

Suguhan Kenestapaan

Kurapatkan dua jemari
Bersama hening yang tak henti
Kuungkapkan satu kritikan
Dengan sebatang rokok yang menegangkan
Kuusap semua khayalan
Di pojok kana sesegukan
Aku berlari menuju ruang
Yang katanya penuh kesetiaan
Akulah orang yang membentur 
Tembok kenestapaan


*)Penulis asal Moncek Timur, Lenteng, Sumenep, kerap dikenal dengan Maofirotul Hasanah. Sekarang sedang duduk di bangku kelas XII IIS MA 1 Annuqayah Putri dan akan melanjutkan studi di Universitas Trunojoyo Madura

Editor : Amin Basiri
#Aku Seorang Anjing Liar #puisi