Aku Seorang Anjing Liar
Pada mulanya aku hidup dalam Tuhan
Dan Tuhan hidup dalam diriku
Pada mulanya aku lahir dari rahim ibu
Mengeluarkan puisi satria
Dikumandangkan arwah sembari berbisik ditelingaku
Pada akhirnya di tanah ini
Anjing berkepala media
Berak dalam sukma.
Aku tunduk pada titah penguasa liar
Memakan sukma media
Menjadikan aku sebagai sabda
Yang lahir dari lidah Tuhan
Dan diasuh lidah setan
Aku hidup di dunia luar
Berkelana dengan skenario manusia
Menghuni Sungai Smorzando
Berani menggonggongi neraka afrit
Bagaimana dengan Tuhan?
Dihunus pemabuk dosa
Terbuat dari api asi
Hangus membakar diriku sendiri
Di sini, perkenalkan diriku
Aku seorang anjing liar
Aku musuh Tuhan
Aku jauh terpental
Agama, orang tua, dan manusia
Semua adalah beban
Aku di sini dicap sebagai anjing liar
Sebagai remaja mabuk media, pemuntah agama
Tak pernah ingat pada Sang Esa.
Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lalu
Jika kau tanya padaku
Aku mau hidup seribu tahun lalu
Di antara batu
Riang menembus mata yang terang
Mengguncang kesadaran daratan
Aku terkekeh
hidupku diguncang angin topan
Meruntuhkan begitu panjang jalan
Yang selama ini ditebang bangsawan
Bagimana, Bu, jika aku tak melihatmu menanak nasi di ujung pagi?
Karena padi yang selama ini
Kau tanam sendiri
Dibawa ombak pengangkut
Menyisakan lumpur perpisahan
Tak punya tanggung jawab besar
Bumi begitu bekerja keras
Melepas asapnya kepada Tuhan
Memperjuangkan manusia
Yang selalu sibuk merusak partikel bumi
Bayangan Kemarau
Kepalamu memiliki ribuan mata lampu jalan
Matamu laut yang akan menenggelamkan
Bagaikan bayangan menghalau kemarau
Masa lalu yang sudah lama tertelan
Kini hanya tertarik pada bayangan
Yang dilekuk lantai
Kemarau menggaruki kebun ladang
Padi-padi berburu di atas tanah
Abjad-abjad kini mulai diisap siasat
Kita berdiri tanpa tulisan
Tanpa pendidikan
Tanpa kepercayaan
Kembali Menerima Puisi
Pagi yang cerah tak tahu arah
Aku datang pada seribu botol
Tanpa pasrah
Aku menerima satu panggilan
Yang tak tahu ke mana aku harus pulang
Di depan dan ditarik ke dalam
Dengan beribu kertas
Dan berselimut tikar
Aku menumpahkan semua yang telah datang
Lekaslah…
Aku kembali pada seorang pemuda
Yang menyuguhkan beribu ocehan bunda
Aku pulang
Dan aku kembali utuh seperti semula
Suguhan Kenestapaan
Kurapatkan dua jemari
Bersama hening yang tak henti
Kuungkapkan satu kritikan
Dengan sebatang rokok yang menegangkan
Kuusap semua khayalan
Di pojok kana sesegukan
Aku berlari menuju ruang
Yang katanya penuh kesetiaan
Akulah orang yang membentur
Tembok kenestapaan
*)Penulis asal Moncek Timur, Lenteng, Sumenep, kerap dikenal dengan Maofirotul Hasanah. Sekarang sedang duduk di bangku kelas XII IIS MA 1 Annuqayah Putri dan akan melanjutkan studi di Universitas Trunojoyo Madura