Annuqayah
Aku mencari jati diri
Dalam gubuk suci
Menghuni banyak pohon
Yang berbuah tanpa angan
Inilah tempat aku mengeja
Aksara-aksara berbentuk doa
Di sini aku mengelana
Mengumpulkan patah-patah kata
Bersembunyi pada
Remahan rasa luka
Yang membendung bulir-bulir cinta
Mari bersiap
Menjajah duka lara
Kembali pada tawa
Menempati singgasana
Yang menjadi garis sang Esa
………………………………….
Sajak Bianglala
Bawa aku
Pada bianglala
Agar aku menghirup aroma lara
Yang melekat pada sekujur tubuhmu
Tanpa lepas
Menggenggamimu
Agar tak ada lagi
Yang mendekap kecuali ”aku”
Ayolah
Sekali saja bawa aku
Pada bianglala
Melepas segala resah
Yang tak memiliki arah
Karena kamu adalah angin
Tanpa angan.
………………………………….
Dialog Cinta
Dalam secarik kertas
Kutemukan dialog cinta
Tentangku yang terlintas
Dalam mimpi nyata
Ternyata, aku lahir
Dalam diksimu
Menjadi asrar
Pada setiap ejaan-ejaan
Dan, aku tahu
Aku juga abadi dalam sajakmu
Sekaligus
Aku adalah hangatmu
Yang tertunda
………………………………….
Tidak, Seakad
Aku menaiki segala arusmu
Dalam tiap-tiap mimpi
Yang tidak menakdiri aku dan kamu
Menjadi abadi
Mungkin tak harus pasrah
Menjadi sejarah
Tapi, ketika angin membawa
Pada sungguh
Bulir-bulir air menitikkan
Aku dan kamu tidak menjadi kita
Aku dan kamu sepasang
Yang kerap terdengar
Sesaling, seasing
Lantas bagaimana?
Mari bertaruh
Seberapa kuat
Menahan erat
Yang tidak, seakad
Sebongkah batu
Yang kerap berjajar
Mengiringi kayu terbakar
Tanpa ada riuh terdengar
Kini tinggal serpihan kayu
Yang menyala
Membawa pada kehangatan nyata
Katanya kau abadi
Di dalamnya
Sengguh kau nyata!
Bersama gemuruh cinta
Yang ada bersama kata
Menari riang dengan tawa
………………………………….
*)Nama pena Shofi Aliya. Aktif di Lembaga Literasi PPA Lubangsa Utara Putri, anak asuh MAPI XI IIS 5 dan Sanggar Sareang.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti