September Berkisah
September kini berkisah
tentang sepanjang trotoar alun-alun kota
di mana para kekasih saling melempar tawa
mengecup malam sebelum datang menggoda
di tubuhnya
banyak kisah yang berkasih
banyak perjalanan yang mulai menepi
suara-suara mulai merambah ke pemukiman dini hari
September kini berkisah
raut wajah semringah bertumpahan di tubuhnya
kopi, puisi, sunyi, dan kekasih semua berirama
menyatu syahdu bak simfoni kalam Ilahi
nyanyian alam yang terus menyelusup ke telingaku
tak semerdu panggilanmu kala itu
yang memabukkanku ke dalam hiruk pikuk percintaan
asmara berkelanjutan di tubuhnya
September kini berkisah
tentang perjalanan kita yang baru sampai di atas meja
melemburkan diri dalam hangat kafein kopi
tak ada dusta di sana, sungguh.
September berkisah dan hanya kita pemeran utamanya
Bandung, 2024
…………………………….
Di Meja Penyair
Di atas meja itu huruf-huruf berlayar
menjala rindu di laut nestapa
tersisa doa yang terus bergemuruh
di langit-langitnya
Hening membungkam ruang
menjarah kata dari buku yang terlelap nyenyak
Di meja itu aku diantarkan ke pintu subuh
menjemput amin di setiap tangan yang mulai dingin
syair-syair bertaburan kepada-Nya
tak ada titik, tak ada koma di sana
Di meja itu aku meracik tembakau
yang terbuat dari galau dan risau
lalu membakarnya dengan api yang menyala di kepala
menyalalah, menyalalah hingga fajar ikut menyapa
Bandung, 2024
…………………………….
Montase Tubuh Tuhan
Di setiap lekuk tubuhmu
aku melihat sorga-Nya, di sana
menggoda merayu para lajang
mencoba mengasuh para jalang
namun sejauh ini, tak ada filsuf, penyair maupun raja
bahkan nabi pun belum sempat menjamahnya
sebab, kau punyaku
dan hanya aku yang berhak mendekap lama,
di sana—di setiap lekuk tubuhmu—yang
begitu jemawa merawat kalam-kalam-Nya
Di tubuhmu juga, Sungai Kautsar mengalir deras doa-doa
membasuh bebatuan yang berlumutan dosa-dosa kepala
rindang pohonan dan ilalang menjelma tempat teduh
bagi sajak-sajakku
Matahari yang terbit di matamu dan tenggelam di mataku
seketika malam menyapa, menimang tubuhku dengan tubuhmu
sambil menyanyikan lagu yang dibawakan angin dari mulut Tuhanmu
lalu kita nyenyak bersama, terlelap tanpa ada cakap yang terucap
hening, tinggal sunyi yang membising
Pada tubuhmu aku ingin baka sebaka-bakanya
bahkan aku ingin menisankan diri di sana,
di tubuhmu di mana montase tubuh Tuhan memanggilku.
Bandung, 2024
*)Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kelahiran Sumenep. Alumnus PP Annuqayah
Editor : Ina Herdiyana