Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi Mh. Dzulkarnain: September Berkisah

Ina Herdiyana • Minggu, 20 Oktober 2024 | 16:09 WIB

Ilustrasi Pixabay
Ilustrasi Pixabay
 

September Berkisah

September kini berkisah

tentang sepanjang trotoar alun-alun kota

di mana para kekasih saling melempar tawa

mengecup malam sebelum datang menggoda

 

di tubuhnya

banyak kisah yang berkasih

banyak perjalanan yang mulai menepi

suara-suara mulai merambah ke pemukiman dini hari

 

September kini berkisah

raut wajah semringah bertumpahan di tubuhnya

kopi, puisi, sunyi, dan kekasih semua berirama

menyatu syahdu bak simfoni kalam Ilahi

 

nyanyian alam yang terus menyelusup ke telingaku

tak semerdu panggilanmu kala itu

yang memabukkanku ke dalam hiruk pikuk percintaan

asmara berkelanjutan di tubuhnya

 

September kini berkisah

tentang perjalanan kita yang baru sampai di atas meja

melemburkan diri dalam hangat kafein kopi

tak ada dusta di sana, sungguh.

September berkisah dan hanya kita pemeran utamanya 

 

Bandung, 2024

…………………………….

 

Di Meja Penyair

Di atas meja itu huruf-huruf berlayar

menjala rindu di laut nestapa

tersisa doa yang terus bergemuruh

di langit-langitnya

 

Hening membungkam ruang

menjarah kata dari buku yang terlelap nyenyak

 

Di meja itu aku diantarkan ke pintu subuh

menjemput amin di setiap tangan yang mulai dingin

syair-syair bertaburan kepada-Nya

tak ada titik, tak ada koma di sana

 

Di meja itu aku meracik tembakau

yang terbuat dari galau dan risau

lalu membakarnya dengan api yang menyala di kepala

menyalalah, menyalalah hingga fajar ikut menyapa

 

Bandung, 2024

…………………………….

 

Montase Tubuh Tuhan

Di setiap lekuk tubuhmu

aku melihat sorga-Nya, di sana

menggoda merayu para lajang

mencoba mengasuh para jalang

namun sejauh ini, tak ada filsuf, penyair maupun raja

bahkan nabi pun belum sempat menjamahnya

sebab, kau punyaku

dan hanya aku yang berhak mendekap lama,

di sana—di setiap lekuk tubuhmu—yang

begitu jemawa merawat kalam-kalam-Nya

 

Di tubuhmu juga, Sungai Kautsar mengalir deras doa-doa

membasuh bebatuan yang berlumutan dosa-dosa kepala

rindang pohonan dan ilalang menjelma tempat teduh

bagi sajak-sajakku

 

Matahari yang terbit di matamu dan tenggelam di mataku

seketika malam menyapa, menimang tubuhku dengan tubuhmu

sambil menyanyikan lagu yang dibawakan angin dari mulut Tuhanmu

lalu kita nyenyak bersama, terlelap tanpa ada cakap yang terucap

hening, tinggal sunyi yang membising

 

Pada tubuhmu aku ingin baka sebaka-bakanya

bahkan aku ingin menisankan diri di sana,

di tubuhmu di mana montase tubuh Tuhan memanggilku.

 

Bandung, 2024

*)Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kelahiran Sumenep. Alumnus PP Annuqayah

Editor : Ina Herdiyana
#Tuhan #september #sastra budaya #puisi #Berkisah #montase