Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi Naufalul Ihya’ Ulumuddin; Deskripsi

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 21 Juli 2024 | 13:40 WIB
Ilustrasi puisi Deskripsi, perempuan berkacamata. (pngtree.com)
Ilustrasi puisi Deskripsi, perempuan berkacamata. (pngtree.com)

Deskripsi

 

Suatu senja

Ibuku bertanya

Terbuat dari apakah dirimu, oh kekasih berkacamata?

 

Aku menarik napas dalam-dalam

Sedalam doa malam yang menolak pagi datang

Sedalam rindu ketika lewat menit pertama kau menutup telepon dariku

 

Dia

Kataku pada ibu

Terbuat dari senyum yang tak pernah pudar

Suara yang serak-serak basah

Dan tangan yang mampu merengkuh bumi dan fer-fernya

 

Dia

kataku pada ibu

 

Terbuat dari doa-doamu atas permintaan menantu yang syahdu

Menantu yang siap menjadi teman berburu diskon di aplikasi shopeemu

Menantu yang akan mendengarkan celotehmu tentang kekurangan-kekuranganku

 

Dia

Kataku pada ibu

Terbuat dari kasih sayang ibunya yang menangis setiap sujud ketika tahajud

Terbuat dari urat lengan bapaknya yang kekar membanting ego demi cita-cita anaknya

Terbuat dari harapan-harapan keluarga besar yang sering kali berekspektasi terlalu tinggi

 

Dia

Kataku pada ibu

 

Terbuat dari mata yang berhasil membelah hatiku

Terbuat dari kaki-kaki jenjang yang hanya bergerak semata demi mencerdaskan kehidupan bangsa

Terbuat dari bentuk tubuh yang memikat jiwa anakmu hingga ke akar-akarnya

 

Dia, bu

Terbuat dari tulang rusuk dan aku-akunya

Dialah Hawa

Dari aku Adamnya

……………………………..

Baca Juga: Sanja’na Maswadi Kama: Tanges Ngasowar

Usaha

 

Jangan manja

Harus usaha

Kata ibuku

 

Uang tak ada

Tanggal gajian masih jauh

Itu pun kalau gaji masih utuh

Seringnya banyak gaji yang dimutilasi, kan?

 

Potongan tubuhnya berserakan entah di mana

Ada yang di tong sampah bernama Tapera

Di lumbung BPJS Kesehatan

Baca Juga: Sanja’na Royhan_J: Ngoker Careta

Di usus dua belas jari Ketenagakerjaan

Bahkan tak jarang malah nangkring di pantat gedung KPK

 

Tapi ibuku keras kepala

Ia menghardikku untuk terus usaha

Katanya, hanya usaha yang bisa mempersatukan kita berdua

 

Saat ini, kondisiku tak ada uang

Adanya hanya aplikasi catatan di hape Samsung tua renta kesayangan

Lebih-lebih ada sisa ingatan tentang senja yang beberapa bulan lalu dipungut dari buku karya Seno Gumira Ajidarma

 

Maka, kutulislah beberapa puisi untukmu

 

Hanya puisi

Tanpa royalti

……………………………..

Kursi

 

Lihat kursi itu, Kiw

Kursi yang kokoh

Terbuat dari jati paling tua di negeri ini

 

Empat kakinya terbuat dari material yang berbeda

Satu terbuat dari rasa rakus

Satu terbuat dari rasa angkuh

Satu yang lain terbuat dari mental intrik yang licik

Dan satu yang terakhir terbuat dari mental juang yang penting menang

 

All In All In

 

Kursi itu juga terlihat bersih dan indah

Sebab ia dilapisi cat pelitur berwarna kemunafikan

 

Kursi itu tak bisa digulingkan siapapun, Kiw

Meski sudah didemo berkali-kali

Dikritik berbusa-busa

Bahkan, dicaci beranjing-anjing tai kucing

 

Kau suka sekali dengan Pramuka

Konon, sembarang medan lokal hingga nasional berhasil kau tapaki dengan kaki-kaki jenjangmu itu

Aku mengerti betapa Pramuka selalu berhasil menyalakan nostalgia dalam dirimu

Aku menghargai setiap rekah senyum dan binar matamu ketika menceritakan tentang Pramuka dan segala isinya

 

Dari Dasadarma sampai ke Cibubur

Dari lelah-letih-lesu hingga tertawa lepas di hadapan api unggun

 

Sungguh cerita luar biasa

Sungguh perempuan tangguh luar biasa

 

Kapan-kapan, maukah engkau berkemah di lubuk hatiku?

Lubuk yang terdalam

Kemah yang selamanya

……………………………..

Kemah

 

Aku ingin mengajakmu berkemah

Di depan rumah saja

Sambil berceloteh tentang cita-cita di depan mata

 

Aku ingin mengajakmu berkemah

Berdua saja

Sambil menikmati kacang Dua Kelinci dan gemercik bintang di angkasa, lalu memberikannya nama satu per satu

 

Aku ingin mengajakmu berkemah

Di depan api unggun asli

Bukan api asmara

Apalagi api cemburu

Aku ingin mengajakmu berkemah

Sambil bernyanyi nada-nada lagu kesukaanmu yang berbahasa asing itu

 

Aku ingin mengajakmu berkemah

Di depan rumah

Tapi tetap tidur di tenda

Berdua

Tanpa melakukan apa-apa

Kecuali saling setia

……………………………..

*)Guru Sosiologi SMAN 2 Bangkalan

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#dia #pramuka #kursi #aku #deskripsi #usaha #ibu #kemah