Deskripsi
Suatu senja
Ibuku bertanya
Terbuat dari apakah dirimu, oh kekasih berkacamata?
Aku menarik napas dalam-dalam
Sedalam doa malam yang menolak pagi datang
Sedalam rindu ketika lewat menit pertama kau menutup telepon dariku
Dia
Kataku pada ibu
Terbuat dari senyum yang tak pernah pudar
Suara yang serak-serak basah
Dan tangan yang mampu merengkuh bumi dan fer-fernya
Dia
kataku pada ibu
Terbuat dari doa-doamu atas permintaan menantu yang syahdu
Menantu yang siap menjadi teman berburu diskon di aplikasi shopeemu
Menantu yang akan mendengarkan celotehmu tentang kekurangan-kekuranganku
Dia
Kataku pada ibu
Terbuat dari kasih sayang ibunya yang menangis setiap sujud ketika tahajud
Terbuat dari urat lengan bapaknya yang kekar membanting ego demi cita-cita anaknya
Terbuat dari harapan-harapan keluarga besar yang sering kali berekspektasi terlalu tinggi
Dia
Kataku pada ibu
Terbuat dari mata yang berhasil membelah hatiku
Terbuat dari kaki-kaki jenjang yang hanya bergerak semata demi mencerdaskan kehidupan bangsa
Terbuat dari bentuk tubuh yang memikat jiwa anakmu hingga ke akar-akarnya
Dia, bu
Terbuat dari tulang rusuk dan aku-akunya
Dialah Hawa
Dari aku Adamnya
……………………………..
Baca Juga: Sanja’na Maswadi Kama: Tanges Ngasowar
Usaha
Jangan manja
Harus usaha
Kata ibuku
Uang tak ada
Tanggal gajian masih jauh
Itu pun kalau gaji masih utuh
Seringnya banyak gaji yang dimutilasi, kan?
Potongan tubuhnya berserakan entah di mana
Ada yang di tong sampah bernama Tapera
Di lumbung BPJS Kesehatan
Baca Juga: Sanja’na Royhan_J: Ngoker Careta
Di usus dua belas jari Ketenagakerjaan
Bahkan tak jarang malah nangkring di pantat gedung KPK
Tapi ibuku keras kepala
Ia menghardikku untuk terus usaha
Katanya, hanya usaha yang bisa mempersatukan kita berdua
Saat ini, kondisiku tak ada uang
Adanya hanya aplikasi catatan di hape Samsung tua renta kesayangan
Lebih-lebih ada sisa ingatan tentang senja yang beberapa bulan lalu dipungut dari buku karya Seno Gumira Ajidarma
Maka, kutulislah beberapa puisi untukmu
Hanya puisi
Tanpa royalti
……………………………..
Kursi
Lihat kursi itu, Kiw
Kursi yang kokoh
Terbuat dari jati paling tua di negeri ini
Empat kakinya terbuat dari material yang berbeda
Satu terbuat dari rasa rakus
Satu terbuat dari rasa angkuh
Satu yang lain terbuat dari mental intrik yang licik
Dan satu yang terakhir terbuat dari mental juang yang penting menang
All In All In
Kursi itu juga terlihat bersih dan indah
Sebab ia dilapisi cat pelitur berwarna kemunafikan
Kursi itu tak bisa digulingkan siapapun, Kiw
Meski sudah didemo berkali-kali
Dikritik berbusa-busa
Bahkan, dicaci beranjing-anjing tai kucing
Kau suka sekali dengan Pramuka
Konon, sembarang medan lokal hingga nasional berhasil kau tapaki dengan kaki-kaki jenjangmu itu
Aku mengerti betapa Pramuka selalu berhasil menyalakan nostalgia dalam dirimu
Aku menghargai setiap rekah senyum dan binar matamu ketika menceritakan tentang Pramuka dan segala isinya
Dari Dasadarma sampai ke Cibubur
Dari lelah-letih-lesu hingga tertawa lepas di hadapan api unggun
Sungguh cerita luar biasa
Sungguh perempuan tangguh luar biasa
Kapan-kapan, maukah engkau berkemah di lubuk hatiku?
Lubuk yang terdalam
Kemah yang selamanya
……………………………..
Kemah
Aku ingin mengajakmu berkemah
Di depan rumah saja
Sambil berceloteh tentang cita-cita di depan mata
Aku ingin mengajakmu berkemah
Berdua saja
Sambil menikmati kacang Dua Kelinci dan gemercik bintang di angkasa, lalu memberikannya nama satu per satu
Aku ingin mengajakmu berkemah
Di depan api unggun asli
Bukan api asmara
Apalagi api cemburu
Aku ingin mengajakmu berkemah
Sambil bernyanyi nada-nada lagu kesukaanmu yang berbahasa asing itu
Aku ingin mengajakmu berkemah
Di depan rumah
Tapi tetap tidur di tenda
Berdua
Tanpa melakukan apa-apa
Kecuali saling setia
……………………………..
*)Guru Sosiologi SMAN 2 Bangkalan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti